Strategi Memulai Bisnis Fotografi

Bisnis

8.2K
Akhir-akhir ini, banyak yang bertanya kepada saya mengenai bisnis fotografi agar diulas di Virala.id. Hal ini berkenaan dengan beberapa bulan terakhir, saya sering melakukan food photography untuk klien yang meminta jasa studio desain yang saya dirikan bersama teman-teman membantu dalam hal digital marketing klien kami tersebut.

Nah, untuk lebih memberikan gambaran mudahnya bagaimana memulai bisnis fotografi, ada satu buku bagus berjudul Bisnis Fotografi karya Pak Tirto Andayanto, seorang dosen IKJ. Untuk teman-teman yang penasaran bagaimana pemaparan beliau mengenai bisnis fotografi ini, berikut saya sarikan.

Banyak hal yang terlewat pada saat kita akan memulai bisnis fotografi. Terkadang kita ingat akan hal tersebut, tetapi karena kita anggap mudah, akhirnya hal tersebut kita taruh pada urutan terakhir. Urutan pertama yang teringat dan selalu menghantui kita adalah berapa modal yang akan kita tanam atau ivestasikan dalam bisnis fotografi dan berapa lama modal tersebut kembali dan menguntungkan.

Ternyata hal yang terlupakan karena kita anggap tidak penting adalah komponen kita untuk dapat cepat kembali modal dan mendapat keuntungan. Kesabaran dan ketelitian harus kita lakukan pada saat akan memulai bisnis fotografi.

Pertama melangkahkan kaki memasuki dunia bisnis fotografi harus didasari pemahaman dan pengertian yang jelas apa dan bagaimana bisnis fotografi. Bab ini adalah ringkasan bagaimana kita memulainya, bagian apa yang harus kita siapkan, dan jenis pekerjaan fotografi mana yang akan kita jadikan mata dagangan.

1. Teknik fotografi

Teknik fotografi adalah modal utama yang harus dimiliki dan dikuasai, baik untuk penanam modal maupun pelaksana. Dalam bisnis fotografi, kemampuan memiliki dan menguasai teknik fotografi sangat mempengaruhi peralatan yang kita miliki dan jenis pekerjaan fotografi

2. Kartu nama

Selembar kertas dengan ukuran tidak lebih dari 5 x 9 cm yang di atasnya tertulis nama, alamat, profesi, dan terkadang ada gambarnya. Kita sering melupakan atau menganggap kartu nama tidak penting.

Namun, kartu nama dalam bisnis fotografi merupakan senjata ampuh untuk memperkenalkan diri kita, karena jelas di kartu nama tertulis nama, alamat, bidang kerja, bahkan foto diri kita. Selain sarana memperkenalkan diri, kartu nama juga membuktikan kita jelas keberadaannya. Ini merupakan kunci kepercayaan yang akan didapat oleh calon pengguna jasa fotografi yang kita tawarkan. Kartu nama juga merupakan salah satu sarana berjualan, karena tanpa kartu nama, calon pengguna jasa fotografi akan sulit mengetahui siapa kita.

Membuat kartu nama ternyata tidak semudah yang kita kira. Dengan ukuran yang kecil (5 x 9 cm), kita harus berpikir keras, karena kartu nana harus mudah diingat dan tepat sasaran. Apa yang akan kita tulis di kartu nama? Apakah akan dicetak berwarna, atau sedikit warna, apakah semua informasi yang kita kerjakan akan kita tulis di kartu nama atau tidak? Apa perlu ada foto diri atau foto/gambar ilustrasi di kartu nama kita? Semua ini dapat kita lakukan di kartu nama kita, tetapi yang tertuang dalam kartu nama jangan sampai mengaburkan diri kita sebenarnya. Jadi, kartu nama harus tepat guna untuk memperkenalkan kita.

3. Portofolio

Portofolio atau kumpulan bukti karya merupakan senjata yang harus dimiliki oleh kita yang akan memulai bisnis fotografi. Memang sering kita mendengar atau pendapat, ”Bagaimana bisa memiliki portofolio? Order atau pekerjaan fotografi saja belum pernah dapat. Kita kan baru akan memulai bisnis fotografi”. Pendapat atau komentar seperti ini biasanya datang dari teman-teman yang baru akan memulai bisnis fotografi. Jika berpikir tentang portofolio seperti ini, kita tidak akan pernah mendapat order atau pekerjaan fotografi, karena kita tidak memiliki atau mempunyai bukti karya yang kita kenal dengan sebutan portofolio.

Portofolio atau bukti karya dalam bisnis fotografi sangatlah penting. Pada saat kita bertemu calon pengguna jasa fotografi, kita tidak bisa mengatakan, ”Saya pernah memotret sebuah liputan acara perkawinan,” atau ”Pernah memotret sebuah pabrik,” atau ”Pernah memotret produk yang menjadi iklan di surat kabar.” Kata ”pernah memotret…” tidak akan dipercaya oleh calon pengguna jasa fotografi, karena bisnis fotografi memerlukan pembuktian dalam bentuk kumpulan karya dalam bentuk foto, yaitu portofolio. Jika kita pelajari dengan teliti, portofolio ternyata tidak sekadar kumpulan bukti karya saja, tetapi seperti pisau bermata dua sisi. Sisi tajam yang di atas membuktikan kemampuan teknik fotografi, sedangkan sisi tajam yang di bawah, membuktikan sudah berapa banyak pekerjaan fotografi yang kita kerjakan.

Bagaimana cara membuat portofolio untuk teman-teman yang akan memulai bisnis fotografi? Satu cara yang bisa diambil untuk membuat portofolio yaitu menjadi copycat. Kita mencoba meniru foto dari contoh iklan atau brosur yang sudah terpublikasi. Sebagai contoh, jika kita makan di restoran cepat saji, kita melihat poster atau brosur produk makanan yang dijual. Kita bisa minta brosur atau poster makanan tersebut, kita bawa pulang, lalu kita coba potret ulang. Bisa atau tidak hasil foto kita mirip dengan poster atau brosur restoran makanan cepat saji tersebut.

Jika foto yang kita hasilkan sudah mirip, berarti foto yang kita buat sudah layak untuk kita jadikan portofolio. Lakukan lagi pemotretan copycat produk iklan yang lain. Makin banyak kita melakukan copycat, tanpa kita sadari kita melatih kemampuan teknik fotografi. Dengan melakukan copycat, perkerjaan fotografi yang kita lakukan akan jelas tolok ukurnya, yaitu mirip atau sama dengan foto yang sudah jadi iklan. Selain itu, dengan melakukan kegiatan copycat, calon pengguna jasa fotografi tidak lagi menanyakan konsep visual, karena iklan tersebut sudah melewati seleksi dari pemilik produk, advertising (biro iklan), dan fotografer profesional. Hasil copycat dapat mencerminkan kemampuan teknik fotografi kita kepada calon pengguna jasa fotografi.

Portofolio baru akan menjadi satu pisau dengan dua mata pisau yang tajam jika sudah mendapat pekerjaan fotografi. Portofolio yang kita kemas dengan baik dapat kita jadikan salah satu sarana promosi, jadi tidak hanya sebagai bukti karya yang sempit pemakaiannya.

4. Networking

Networking atau lebih kita kenal dengan jaringan dunia kerja merupakan bagian dari bagaimana memulai bisnis fotografi. Networking dalam hal ini adalah membuka dan menjaga hubungan dengan penguna jasa fotografi. Agar terjadi pengembangan pekerjaan fotografi, selain membuka dan menjaga hubungan dengan calon pengguna jasa fotografi, kita juga membuka dan membina mitra kerja, seperti sesama fotografer, studio cuci cetak digital, pembuat bingkai, pembuat album, layout man, dan tempat penyewaan peralatan fotografi.

5. Modal

Sebetulnya modal yang utama dalam bisnis fotografi adalah memiliki dan menguasai teknik fotografi. Kita bisa ikut kursus, workshop, atau sekolah fotografi untuk mendapatkan kemampuan teknik fotografi yang baik dan benar. Setelah modal utama kita miliki, barulah kita pikirkan modal pendukung lainnya. Misalnya, apakah harus berbadan hukum, memiliki kantor atau studio, peralatan fotografi yang seperti apa yang akan kita jadikan investasi sebagai alat kerja? Sekarang ini tersedia peralatan buatan China dengan harga yang murah dan juga peralatan buatan Eropa atau Amerika dengan harga yang lumayan mahal. Pilihan jumlah atau nilai uang yang akan kita jadikan modal untuk memumlai operasional bisnis fotografi sangat bergantung pada diri kita sendiri.

6. Manajemen fotografi

Manajemen fotografi yang paling sederhana adalah bagaimana kita menghitung harga jual yang berupa harga jasa fotografi dan harga produksi dari output yang diminta oleh pengguna jasa fotografi. Setelah itu, manajemen sederhana harus ada pencatatan uang masuk dan uang keluar, karena dengan mencatat keuangan dengan benar dan tertib kita dapat menghitung berapa keuntungan dan kerugian yang kita dapat, sekaligus mengevaluasi kinerja kita.

Menangkap Klien Fotografi

Mendapatkan pekerjaan fotografi dari calon pengguna jasa fotografi atau klien, tidak semudah menjual kacang goreng yang berkeliling menjajakan dagangannya atau mangkal di sudut jalan menunggu pembeli. Menangkap pembeli mata dagangan bisnis fotografi memiliki keunikan yang sangat menarik karena pada dasarnya kita menjajakan jasa fotografi dan karya fotografi. Kedua mata dagangan fotografi ini memiliki pendekatan yang sangat berbeda, belum lagi output yang merupakan permintaan dari calon klien. Apa saja yang harus kita siapkan dalam usaha menangkap calon klien? Apakah kita membuka lapak atau toko di tempat yang tepat dan menyurvei berapa banyak pesaing yang ada di lokasi kita?

1. Persiapan mendapatkan pekerjaan fotografi

a. Menguasai teknik fotografi

Menguasai dan mengerti teknik fotografi merupakan senjata ampuh yang harus disiapkan, karena kita tidak bisa bekerja tanpa senjata tersebut. Mata dagangan kita, baik itu jasa fotografi maupun karya fotografi, baru bisa kita kerjakan jika kita menguasai dan mengerti teknik fotografi.

b. Manajemen fotografi

Manajemen fotografi harus kita ketahui, sehingga kita dapat menghitung dengan terukur, aman, dan rasional harga jual yang akan kita tawarkan. Dengan manajemen, kita sekaligus dapat menghitung keuntngan yang akan kita dapat dalam sebuah pekerjaan fotografi.

c. Kerja magang/jadi asisten fotografer

Kerja magang atau menjadi asisten fotografer lebih dahulu sebelum melakukan bisnis fotografi merupakan sarana belajar yang baik. Kita bisa belajar cara menangkap klien dan proses kerja menyelesaikan pekerjaan fotografi. Namun sayang, saat ini dengan alasan kesibukan, tidak banyak fotografer yang sudah lebih dahulu melakukan bisnis fotografi mau menerima fotografer magang atau belajar.

d. Portofolio

Portofolio atau kumpulan bukti karya merupakan senjata untuk menangkap calon pengguna jasa fotografi. Dengan memperlihatkan portfolio, kita dapat meyakinkan calon pengguna jasa fotografi tentang siapa kita dan kemampuan kita dalam teknik fotografi.

e. Networking

Networking atau kita kenal dengan jaringan kerja, sangat diperlukan pada saat kita ingin menangkap calon pengguna jasa fotografi. Dengan mempublikasikan diri, kita akan dapat dengan mudah mendapat calon pengguna jasa fotografi dari teman-teman sekolah atau dari lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja.

2. Alur bisnis fotografi

Keunikan dalam bisnis fotografi adalah pekerjaan fotografi datangnya bisa dari sumber yang sangat berbeda-beda, begitu pula output yang diminta bisa beragam. Semua bergantung pada permintaan pengguna jasa fotografi. Oleh karena itu, penanganan atau perlakuan sopan santun dalam melakukan bisnis juga berbeda. Jika kita melihat alur bisnis fotografi, kita boleh berbangga hati dan tidak takut akan hilangnya pekerjaan fotografi, karena hasil akhir kerja fotografi adalah bahan dasar yang pasti dibutuhkan dan tidak ada kata pensiun di bisnis fotografi.

a. Klien -> Advertising -> Fotografer

Alur bisnis fotografi seperti ini biasanya terjadi pada pekerjaan fotografi untuk pembuatan iklan, company profile, katalog, atau kalender. Kita sebagai fotografer mendapat arahan dan mengajukan penawaran harga kepada advertising. Dalam alur bisnis seperti ini, sepenuhnya kita bertanggung jawab dan berkoordinasi dengan advertising. Sopan santun bisnis yang harus kita jaga adalah jangan menggunting dalam lipatan (berbuat curang), karena peluang mengambil pekerjaan fotografi yang diberikan kepada advertising sangat mudah dilakukan.

Keuntungan alur bisnis seperti ini, kita sebagai fotografer dapat dikatakan tinggal melakukan pekerjaan fotografi. Kita tidak lagi memikirkan konsep visual, akomodasi, transportasi, dan perizinan pada saat melakukan kerja pemotretan.

Kerugian atau tepatnya kelemahan alur seperti ini adalah pada sistem pembayarannya. Pada saat kita buatkan penawaran harga dan kontrak kerja, kita harus mencantumkan sistem dan jangka waktu pembayaran, termasuk uang muka berapa persen dari total nilai kontrak. Jika tidak, biasanya pihak advertising agak sulit mengeluarkan uang muka yang akan kita gunakan untuk biaya operasional.

b. Klien  Graphic Designer  Fotografer

Alur bisnis fotografi seperti ini dapat dikatakan sama dengan alur bisnis fotografi yang melalui advertising. Hal yang membedakan adalah desainer grafis dapat berdiri sendiri (perorangan) atau memang sebuah lembaga yang mengkhususkan hanya bekerja membuat konsep visual. Ini biasanya terjadi pada pekerjaan fotografi untuk pembuatan iklan, company profile, katalog, dan kalender. Kita sebagai fotografer mendapat arahan dan mengajukan penawaran harga kepada seorang desainer grafis atau sebuah lembaga desain konsep visual. Dalam alur bisnis seperti ini, sepenuhnya kita fotografer bertanggung jawab dan berkoordinasi dengan mereka.

Sopan santun bisnis yang harus kita jaga adalah jangan menggunting dalam lipatan, karena peluang mengambil pekerjaan fotografi yang diberikan kepada seorang desainer grafis atau sebuah lembaga desain konsep visual sangat mudah dilakukan. Keuntungan dan kerugian alur bisnis seperti ini sama dengan keuntungan melalui advertising, yaitu kita sebagai fotografer dapat dikatakan tinggal melakukan pekerjaan fotografi. Kerugiannya, kita harus membuat kejelasan dalam sistem dan jangka waktu pembayaran serta uang muka yang dibayarkan.

c. Klien  Percetakan  Fotografer

Alur bisnis fotografi seperti ini agak berbeda dengan alur bisnis yang melalui advertising atau graphic designer. Output yang diminta sama, yaitu biasa terjadi pada pekerjaan fotografi untuk pembuatan iklan, company profile, katalog, dan kalender. Namun, perbedaan yang sangat terasa jika dibandingkan dengan alur bisnis sebelumnya adalah percetakan tidak memiliki orang yang bertugas menerjemahkan khayalan calon pengguna jasa fotografi menjadi sebuah konsep visual yang akan kita ubah dengan kemampuan teknik fotografi menjadi foto atau gambar.

Kita sebagai fotografer tidak mendapat arahan dari pihak percetakan. Biasanya kita bersama- sama mendengar keinginan calon pengguna jasa fotografi, walaupun kita mengajukan penawaran harga kepada percetakan. Dalam alur bisnis seperti ini, kita sebagai fotografer harus jelas kepada siapa kita bertanggung jawab dan berkoordinasi, dengan percetakan atau calon pengguna jasa fotografi.

Sopan santun bisnis yang harus kita jaga adalah jangan menggunting dalam lipatan, karena peluang mengambil pekerjaan fotografi yang diberikan kepada percetakan sangat mudah dilakukan. Keuntungan alur bisnis ini, kita bisa mendapatkan pekerjaan fotografi dari percetakan tanpa harus mencari sendiri. Kerugian alur bisnis seperti ini adalah kita bisa mendapat kesulitan jika pada awal penawaran harga kita tidak membuat kejelasan tentang kepada siapa kita berkoordinasi, siapa yang menyiapkan akomodasi, transportasi, dan konsumsi pada saat pekerjaan fotografi berlangsung. Sistem pembayaran juga harus jelas, apakah kita ajukan ke percetakan atau kepada pengguna jasa fotografi.

d. Klien -> Broker -> Fotografer

Alur bisnis fotografi seperti ini bisa terjadi pada pekerjaan fotografi apa pun, bergantung pada broker atau pencari kerja fotografi. Kita fotografer tidak mendapat arahan dari broker. Mereka hanya mencarikan pengguna jasa fotografi, selanjutnya kita meneruskan tawaran pekerjaan dan mengajukan penawaran harga kepada calon pengguna jasa fotografi. Dalam alur bisnis seperti ini, fotografer bertanggung jawab dan berkoordinasi dengan broker dan calon pengguna jasa fotografi.

Sopan santun bisnis yang harus kita jaga adalah jangan menggunting dalam lipatan, karena peluang mengambil pekerjaan fotografi yang diberikan kepada broker sangat mudah kita lakukan. Keuntungan alur bisnis seperti ini, kita sebagai fotografer tidak perlu melakukan promosi untuk mendapatkan pekerjaan fotografi, karena broker yang mencarikan pekerjaan fotografi untuk kita. Broker hanya meminta kita memberikan portofolio dan persentase keuntungan yang harus dia dapat. Kelemahan alur bisnis fotografi seperti ini, kita harus membuat kejelasan dalam koordinasi, akomodasi, transportasi, konsumsi, dan perizinan ketika melaksanakan pekerjaan fotografi. Selain itu, kita juga perlu mendapatkan kejelasan dalam sistem dan jangka waktu pembayaran serta persentase uang muka yang dibayarkan sebagai biaya operasional.

e. Klien -> Fotografer

Alur bisnis fotografi seperti ini terkesan mudah, karena tidak ada campur tangan atau keikutsertaan pihak lain dalam pekerjaan fotografi. Kita sebagai fotografer langsung berhubungan dengan calon pengguna jasa fotografi.

Pekerjaan fotografi yang kita dapat tidak terbatas, tetapi semua kebutuhan konsep visual yang diperlukan oleh calon pengguna jasa fotografi. Kita sebagai fotografer mendapat arahan dan mengajukan penawaran harga langsung kepada calon pengguna jasa fotografi. Dalam alur bisnis fotografi seperti ini, sepenuhnya kita bertanggung jawab dan berkoordinasi dengan calon pengguna jasa fotografi.

Sopan santun bisnis yang harus kita jaga adalah jangan mengingkari janji yang sudah disepakati, karena dalam alur bisnis fotografi seperti ini kekuatannya adalah kepercayaan antara kita sebagai fotografer yang melaksanakan pekerjaan fotografi dengan pengguna jasa fotografi. Keuntungan dengan alur bisnis seperti ini, kita dapat dikatakan tinggal melakukan pekerjaan fotografi, tidak lagi memikirkan akomodasi,transportasi, dan perizinan pada saat melakukan kerja pemotretan. Demikian pula dengan sistem pembayaran menjadi mudah, karena kita langsung mengajukan biaya fotografi kepada pengguna jasa fotografi. Pada saat kita buatkan penawaran harga dan kontrak kerja, kita harus mencantumkan sistem dan jangka waktu pembayaran, termasuk besarnya persentase uang muka dari total nilai kontrak. Hal ini untuk menghindari terjadinya salah pengertian dengan pengguna jasa fotografi, karena uang muka akan kita gunakan untuk biaya operasional.

Kerugian dari alur seperti ini terlihat pada saat kita bertemu kali pertama dengan calon pengguna jasa fotografi. Ketika mendengarkan gambaran keinginan calon pengguna jasa fotografi, biasanya mereka hanya melempar informasi dan tema atau konsep yang sangat sederhana, singkat, atau seadanya. Hal yang paling sering terjadi adalah terucapnya ”Bapak kan sudah ahli di fotografi, … terserah bapak saja. Yang penting foto atau gambarnya dibuat yang bagus.” Ucapan atau perkataan seperti ini adalah pujian sekaligus jebakan, karena bagus dan benar sebuah foto, antara kita sebagai fotografer yang membuat atau menerjemahkan khayalan dan yang meminta dibuatkan belum tentu sama. Pada alur bisnis fotografi seperti ini, kita setidaknya harus menjaga dua hal. Pertama, tuntutan kemampuan teknik fotografi yang cukup tinggi untuk membuat gambar atau foto menjadi bagus. Kedua, kemampuan kita dalam menggali informasi dari calon pengguna jasa fotografi tentang konsep visual yang ada di khayalan mereka untuk kita terjemahkan menjadi sebuah gambar atau foto.

3. Alur kerja klien dan fotografer

Apa yang akan kita lakukan jika sudah bertemu dengan calon pengguna jasa fotografi atau klien? Jika kita tidak menyiapkan amunisi atau bekal yang cukup, kita akan bingung memulai pembicaraan dengan calon klien, dan yang paling berbahaya adalah dari pertemuan itu kita tidak mendapatkan tujuan kita, yaitu pekerjaan fotografi. Persiapan kita harus lengkap dan mental harus kuat. Kita harus tahu apa saja yang akan menjadi pembicaraan antara kita dengan calon pengguna jasa fotografi dan mengusahakan pembicaraan tersebut memiliki hasil akhir seperti yang kita inginkan, yaitu pekerjaan fotografi. Berikut ini adalah alur kerja yang terjadi.

a. Tukar pikiran (brain storming)

Pada saat kita bertemu dengan calon pengguna jasa fotografi, langkah yang paling awal adalah menggali sedalam mungkin apa yang mereka inginkan. Dengan demikian, kita mengetahui dengan pasti keinginan mereka.

b. Tema dan konsep

Setelah kita mengetahui dengan pasti keinginan dari calon pengguna jasa fotografi, langkah selanjutnya adalah menyamakan tema dan konsep. Pada saat akan menyamakan pemahaman tentang sebuah nilai tema atau konsep visual, kita jangan terkecoh atau terjebak dengan pernyataan yang dilontarkan oleh calon pengguna jasa fotografi yang biasanya memuji kita sebagai ahli fotografi. Pernyataan tersebut bisa membanggakan diri kita, tetapi juga menjebak diri kita. Kita boleh berbangga hati dikatakan sudah ahli atau pro, tetapi hati-hati kita, karena pemahaman sebuah nilai antara kita dan calon pengguna jasa fotografi harus sama. Sebagai contoh, foto yang bagus menurut kita belum tentu bagus menurut mereka, begitu juga sebaliknya. Predikat ahli dalam fotografi salah satunya adalah mampu dengan mudah menyamakan pemahaman sebuah nilai, sehingga hasil akhir kerja fotografi merupakan sebuah terjemahan khayalan calon pengguna jasa fotografi yang kita wujudkan dalam bentuk gambar atau foto.

c. Shooting list

Setelah tercapai sebuah pemahaman antara calon pengguna jasa fotografi yang memiliki khayalan konsep visual dan kita sebagai fotografer yang menerjemahkan khayalan konsep visual tersebut menjadi foto atau gambar, kita sebagai fotografer bersama-sama calon pengguna jasa fotografi menentukan banyak objek atau lokasi atau adegan penting yang harus kita buat menjadi foto atau gambar. Membuat daftar apa saja yang akan difoto atau dibuat menjadi gambar lewat teknik fotografi sangat kita perlukan, karena jumlah dan jenis objek yang akan kita foto mempengaruhi peralatan yang akan kita pergunakan atau sewa.

d. Story board

Story board atau gambar tangan berupa sketsa dipergunakan sebagai acuan dari khayalan visual. Dari story board kesalahan kita dalam menerjemahkan khayalan konsep visual dari calon pengguna jasa fotografi dapat diminimalisasi. Saat ini, beberapa advertising dapat mengarahkan fotografer dengan menggunakan gambar atau foto yang banyak beredar di dunia maya. Mereka tidak lagi menggunakan gambar tangan atau sketsa.

e. Shooting days

Shooting days adalah lamanya kita mengerjakan pekerjaan fotografi. Waktu ini bisa satu hari, dua hari, atau lebih dari seminggu. Lama pekerjaan fotografi yang kita lakukan sangat bergantung pada hasil brain storming, penyamaan pemahaman tentang tema dan konsep, serta banyaknya objek yang akan difoto.

f. Budget

Setelah lima persiapan di atas dilakukan, tercapai pemahaman antara konsep visual klien dengan kita sebagai fotografer yang menerjemahkan khayalan konsep visual tersebut. Dengan demikian, langkah berikutnya adalah pengajuan biaya pengerjaan pekerjaan fotografi, yaitu dalam bentuk penawaran harga.

4. Pasar fotografi

Pilih bidang kerja dan segmen fotografi berdasarkan teknik fotografi yang sudah dikuasai. Bidang kerja dan segmen fotografi akan berkembang sejalan dengan meningkatnya kemampuan teknik fotografi yang kita tekuni. Jangan meninggalkan pekerjaan fotografi yang pada awalnya menghidupi kita, tetapi kita harus mengembangkan mata dagangan fotografi yang lainnya dengan catatan jika kita sudah mampu secara teknik fotografi.

5. Publikasi

Memasuki dunia bisnis fotografi akan terasa sulit walaupun kita sudah memiliki modal yang lengkap, yaitu kemampuan teknik fotografi dan modal uang untuk memulai operasional. Ini terasa sulit karena kita terbebani karena ”belum dikenal orang”. Memang ada pepatah ”tidak dikenal maka tidak disayang”, ini tampaknya tepat untuk kita yang baru mulai memasuki bisnis fotografi. Lalu, bagaimana supaya kita dikenal dan disayang?

Banyak cara untuk menjadi terkenal dan disayang, intinya adalah terkenal atau dikenal oleh orang lain bahwa kita melakukan bisnis fotografi. Untuk menjadi terkenal, kita bisa pasang iklan di media cetak. Kita juga bisa membuat brosur yang kita sebar dengan cara menitipkannya kepada tukang koran, disebar dari rumah ke rumah, atau disebar di perempatan jalan. Kita pun bisa menggunakan kemudahan dunia maya dengan membuat blog, website, Facebook, Twitter, Multiply, email, atau masuk ke dalam milis tertentu.

Pada saat ingin memperkenalkan diri kita kepada orang lain, kita harus pikirkan besarnya biaya yang akan kita keluarkan dan yang terpenting adalah seberapa cepat kita jadi dikenal oleh orang lain. Jangan kita tinggalkan atau lupakan portofolio atau bukti karya. Membuat portofolio adalah cara yang murah, mudah, dan cepat dikenal. Namun, mengapa portofolio terlupakan? Pada saat kita ingin dikenal orang lain, portofolio dilupakan karena yang ada di kepala kita adalah bagaimana dikenal oleh orang lain yang benar-benar tidak kita kenal.

Sebaiknya kita mengenalkan dahulu diri kita pada orang-orang di sekitar, di lingkungan keluarga, pakde, om, tante, keponakan, lingkungan tempat tinggal, dan lingkungan tempat kerja kita. Kesempatan akan terbuka ketika mereka mengetahui bahwa saat ini kita sudah bukan sekadar hobi membuat foto dan sudah memiliki kemampuan teknik fotografi yang lebih baik. Pernahkah kita melakukan kegiatan promosi kepada orang-orang di lingkungan rumah untuk dokumentasi acara tujuh belasan? Di lingkungan keluarga menawarkan diri menjadi fotografer perkawinan dari saudara kita? Di lingkungan kantor menjadi fotografer acara gathering? Dengan membuat portofolio, mereka jadi mengetahui kita memiliki peralatan fotografi dan bisa memotret dengan baik dan benar.

Promosi seperti ini output-nya cukup di burning ke CD atau DVD, dikemas dengan baik, kemudian kita sertakan kartu nama dengan keterangan kita adalah seorang fotografer. Portofolio karya copycat kita serahkan dengan surat pengantar barang atau tanda terima yang tertera nama studio dan alamat kita. Cara memperkenalkan diri seperti ini murah, mudah, dan efek bumerangnya cepat sekali.

6. Lewat telepon

Apa yang akan kita lakukan jika publikasi yang kita lakukan ada hasilnya atau kita sudah mulai dikenal orang lain dan sekarang menerima efek bumerang, yaitu sudah ada orang lain atau calon pengguna jasa fotografi yang menghubungi kita melalui telpon? Menerima telepon dari orang yang tidak kita kenal adalah konsekuensi yang harus kita terima dalam bisnis fotografi. Orang lain atau calon pengguna jasa fotografi bisa saja mendapatkan nomor telepon kita dari portofolio kita yang sudah kita sebarkan. Pada saat kita menerima telepon, kita harus menggunakan bahasa Indonesia dengan benar, jelas, tegas, dan santun. Menerima telepon adalah hal yang sulit, karena kita tidak mengetahui posisi dan situasi si penelepon, ekspresi wajahnya, apakah pengguna langsung jasa fotografi atau broker. Apa pun atau siapa pun si penelepon, kita sebagai pelaku bisnis fotografi harus siap dan menyiapkan jawaban yang singkat, padat, dan mudah dimengerti, sehingga pembicaraan lisan lewat telepon berakhir dengan kita mengirimkan surat penawaran dan meminta untuk bertemu, tatap muka untuk memperjelas apa yang akan dikerjakan dan harga yang kita tawarkan.

Selamat mempraktikan!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Strategi Memulai Bisnis Fotografi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Fachmy Casofa | @fachmycasofa

Managing Editor Virala.id. Writer of best seller national book, Habibie Tak Boleh Lelah dan Kalah!, Founder Satria Foundation and Epixplay Karya Indonesia | www.fachmycasofa.com or fachmycasofa@gmail.com for more creative collaboration.

Silahkan login untuk memberi komentar