Mengapa 11 Tempat Mengagumkan di Kyoto Ini Ingin Aku Kunjungi Lagi?

Piknik

2.1K
Semakin sering saya melakukan perjalanan, saya semakin yakin bahwa mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan budaya bukanlah minat saya.

Hal ini sebenarnya sudah saya sadari sejak saya kecil, ketika Bunda mengajak berkeliling di Bangkok waktu saya berusia sekitar sembilan tahun, hampir sebagian waktu kami dihabiskan dengan mengunjungi satu temple ke temple lain dan museum tentang Thailand.

Semenjak itu, memori saya tentang kota tersebut agak kurang baik, alias saya menganggap kota tersebut membosankan karena perjalanan saya saat itu kurang terasa nikmat. Bukan apa-apa, karena memori yang terekam di otak saya adalah bagian Bangkok yang sepanjang sudut kotanya hanya ada Buddhist temple aja!

Tapi, karena sudah dibiasakan dari kecil oleh Bunda saya untuk selalu mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan museum, serta paradigma masyarakat yang masih menganggap bahwa ketika kita melakukan perjalanan itu perlu mengunjungi tempat-tempat tersebut untuk mengetahui lebih dalam tentang budaya dan sejarah lokal, alhasil cukup membuat saya jadi feel guilty ketika tidak mengunjungi tempat-tempat tersebut. Padahal saya tau dari lubuk hati saya yang terdalam, I'm not interested with it.

Sebaliknya, saya semakin yakin tertarik dengan tempat-tempat authentic yang bisa membuat saya merasa attached atau menimbulkan "sense of place". Sedikit penjelasan, sense of place ini adalah sebuah perasaan yang muncul karena ada keterikatan antara manusia dengan suatu tempat, entah itu dari memori masa kecil, atau perasaan yang muncul karena imajinasi kita ketika sebelumnya melihat atau mengetahui sesuatu tentang tempat tersebut dari film, komik, novel, lagu dan media lainnya. Sehingga, ketika secara langsung kita mengunjungi tempat tersebut, ada sebuah perasaan nyaman layaknya ketika kamu menemukan atau kembali pulang ke "rumah".

Dan setelah melakukan perjalanan beberapa kali, saya sangat menyadari bahwa perasaan tersebut muncul ketika saya terlibat dengan aktivitas masyarakat lokal and their everyday lives. Only those places that have certain charm which can fulfil my former imagination and picture what it was like to live there. Dan bisa ditebak bahwa tempat-tempat tersebut bukanlah tempat yang menjadi objek wisata (kecuali yang terkait dengan masa kecil saya secara langsung, seperti Disney, Ghibli dan berbagai kenangan masa kecil lainnya).

Intinya, jangan heran ketika membaca perjalanan saya di Kyoto. yang terkenal dengan berbagai tempel-nya, saya justru hanya mengunjungi satu (iya, satu!) dan sisanya saya habiskan untuk mengunjungi neighbourhood, toko buku, kafe kecil, lingkungan perumahan dan sudut-sudut kota lainnya yang bisa memberikan saya gambaran tentang kehidupan sehari-hari masyarakat lokal di sana. Dan tentunya, memunculkan keterikatan batin dan memberikan rekaman serta kenangan tentang kota cantik dan rendah hati ini kepada saya.

1 - Kiyomizu-dera & Surroundings

Di antara berbagai temple yang ada di Kyoto, hanya Kiyomizu-dera yang bisa menarik saya untuk berkunjung. Mungkin selain fotonya yang terlihat menarik (saya melihat foto teman saya ketika berkunjung di musim gugur, tempat ini terlihat jauuuh lebih cantik!), letaknya yang berada di lingkungan yang asri (di kaki bukit) dan dikelilingi dengan two of Kyoto's most attractive streets, Ninen-Zaka and Sannen-Zaka, cukup membuat saya penasaran. Dan hasilnya, sesuai dengan ekspektasi saya, tempat ini sangat worth visiting! Hanya ada satu hal yang saya sesali, yaitu tidak membawa payung!

Padahal, hari-hari sebelumnya, saya selalu membawa payung ketika jalan-jalan. Tapi hari itu, entah kenapa kami merasa sangat yakin cuaca akan selalu cerah. Alhasil, ketika baru aja berjalan-jalan sebentar memasuki Sannen-Zaka, hujan mengguyur Kyoto dan saya pun tidak sempat banyak memfoto, karena fokus untuk mencari tempat berteduh. Padahal, menikmati hujan di bawah payung dan berjalan di lingkungan ini akan sangat menyenangkan sekali, karena berjalan di sini terasa seperti kembali ke Zaman Edo dengan bentuk rumah dan jalanannya yang masih sangat tradisional dan ditambah dengan anak-anak muda yang memakai baju Yukata untuk merayakan musim panas. Terlepas dari itu semua, tempat ini paling berhasil memikat hati saya di Kyoto.

2 - Kasagiya

Untuk menemukan tempat ini bukan secara kebetulan atau asal dipilih sebagai tempat berteduh ketika hujan mulai deras mengguyur Sannen-Zaka dan Ninen-Zaka. Justru sebenarnya kami bisa aja mencari tempat berteduh yang sudah kami temui sebelum-sebelumnya saat mencari kedai kecil ini. Tapi, karena saking besarnya rasa penasaran saya karena sudah mendapatkan beberapa rekomendasi tentang suasana dan makanan di tempat ini, saya tetap berjalan terus menerobos hujan, sambil mencari tempat ini. Setelah beberapa kali bertanya ke beberapa orang yang berbeda di beberapa restoran yang berbeda pula (yang terakhir itu kami bertanya di toko yang persis berada di sebelah Kasagiya, dan ketika kami masuk hanya untuk bertanya di mana kedai ini, si ibu-ibu penjaga toko mukanya sudah terlihat kecewa sekaligus malas, huhuhu), akhirnya ketemu juga kedai yang ya kalau dari luar memang mudah sekali untuk terlewati karena ukurannya yang kecil, tertutupi oleh tumbuhan berjalar daaan tidak ada papan nama dalam huruf alfabet! Hufttt.

Anyway, tempat ini memang oke banget, karena berasa suasana Jepang tempo dulu, apalagi dengan ornamen kayunya yang makin terasa tradisional. Dari hasil rekomendasi yang saya dapatkan akhirnya saya pesan Uji-kintoki. Walaupun overall rasanya enak, tapi karena saat itu suasananya dingin karena kami dalam keadaan basah-agak-kuyup dan di luar masih hujan deras, jadi semangkuk shaved-ice berukuran agak besar bisa dibilang kurang tepat untuk dipilih saat itu.

3 - Prinz

Salah satu kelemahan saya adalah ketika saya sudah penasaran, suka ambisius dengan satu hal, maka pasti akan saya kejar, bagaimanapun caranya. Contoh kecilnya adalah ketika saya bela-belain mengunjungi toko buku yang sebenarnya letaknya jauh dari stasiun, berada di tengah-tengah permukiman, tidak banyak diketahui orang (bahkan karyawan Seven Eleven yang letaknya hanya berjarak beberapa ratus meter pun tidak tahu keberadaan toko buku ini!), dan again, tidak ada papan atau tanda yang menunjukkan nama tempat ini.

Kalau saja saya tidak inget bentuk bangunannya, mungkin saya tidak akan menemukan tempat ini sekalipun saya sudah berdiri di depannya. Jangan salahin saya, tapi salahin informasi yang saya dapat tentang tempat ini: an art gallery, bookshop, garden and a library behind a minimalist facade. Coba, baca kalimatnya saja sudah bikin penasaran, kan? Yang terbayang pertama kali di benak saya adalah tempat ini semacam one-stop place gitu, deh.

Semua yang saya suka ada disini. Makanya saya bela-belain. Tapi ... tidak taunya ... mungkin nasib saya agak sial di hari itu, atau memang sesuatu yang terlalu dipaksakan itu memang tidak baik, saat saya datang ke sana ternyata lagi ada acara private. Jadinya yang terbuka untuk publik hanya perpustakaanya aja, sedangkan untuk toko buku, taman dan art gallery nya ditutup. Tapi, yang cukup menghibur adalah begitu melihat buku-buku di perpustakaan yang sebagian besarnya dalam bahasa Inggris (jarang banget ada toko buku yang seperti ini!), bahkan seinget saya tidak menemukan buku dalam Jepang ketika browsing buku di sana.

4 - Gion

Selain kawasan Kiyomizu-dera, neighbourhood di Kyoto yang wajib dikunjungi adalah Gion. Seharusnya waktu yang paling tepat ke daerah ini adalah sore atau bahkan malam hari ketika para Geisha mulai keluar. Tapi, dikarenakan kami sudah berjanji ke Ayah-Bunda kalau tidak akan pulang di atas jam delapan, dan karena Gion sudah searah dengan rute perjalanan kami dari Kiyomizu-dera, maka kami putuskan untuk mengunjungi distrik ini di siang hari. Walaupun masih sepi, tapi tetap menyenangkan kok jalan-jalan di sekitar daerah ini karena ada aja hal-hal yang menarik yang saya temui di jalan. Mulai dari sepasang kekasih yang lagi foto pre-wedding, para gadis sedang we-fie dengan Yukata mereka yang cantik, kantor pos yang super kawaii, bertemu Geisha ... yang ternyata wisatawan asing yang sedang mengikuti paket wisatawan untuk merasakan jadi seorang Geisha (huft!), hingga berbagai bangunan tradisional Jepang yang masih terlihat kokoh dan sangat terawat. Kalau ada kesempatan lagi untuk datang ke Kyoto, saya pasti akan mengunjungi Gion lagi, dengan lebih banyak sudut yang dijelajahi, menghabiskan waktu yang lebih lama dan tentunya berkunjung saat malam hari untuk lebih merasakan sisi lain kota ini.

5 - Ichijoji & Surroundings

Awalnya saya ke sini karena mencari dua toko buku yang konon katanya paling kece di Kyoto: Prinz dan Keibunsha. Dalam perjalanan menuju lokasi ini, saya sempat agak menyesal karena ternyata jaraknya lebih jauh dari perkiraan sebelumnya (sekitar satu jam naik bus dari Kyoto Bus Station).

Tapi rasa sesal dan capek saya itu mulai menghilang ketika sampai di neighbourhood ini. Lebih tepatnya sih saat melihat tempatnya yang sangat tenang di antara perumahan asri dengan berlatarkan bukit hijau. Walaupun sebagian besar neighbourhood yang saya kunjungi di Jepang hampir dipastikan selalu tenang, tapi ya karena tiap-tiap dari mereka punya karakter yang berbeda-beda, jadi saya pun tidak pernah bosan untuk mengunjunginya. Dan yang paling menyenangkan dari semua itu adalah keberadaan local shops and cafes yang berhasil bikin saya berbinar-binar ketika melihat display store mereka.

Rasanya pengen banget masukin setiap toko dan kafe kalau tidak mengingat Yen yang tersisa di dompet saya. Hiks! Belum lagi dengan berbagai scenes yang biasanya hanya saya lihat ketika di komik atau film manga, seperti orang-orang menyebrang rel kereta yang berada ditengah-tengah permukiman (tapi jangan disamain dengan kondisi permukiman bantaran rel kereta di Indonesia, ya!), sekelompok anak-anak SD berkumpul untuk makan bekal mereka di salah satu sudut toko, dan masih banyak "pemandangan" lainnya yang mungkin tidak akan saya temukan ketika hanya berjalan-jalan di pusat kota atau tempat-tempat wisata.

6 - Nihonkan

Saya jarang banget merekomendasikan sebuah tempat menginap, tapi yang satu ini menurut saya benar-benar memuaskan dari berbagai hal. Mulai dari tempatnya yang sangat strategis (cuma 5 menit jalan ke Kyoto Station), orang-orangnya yang sangat baik dan helpful, tempatnya bersih dan nyaman, harganya yang affordable, dan tempat ini terbilang unik dibandingkan hotel pada umumnya.

Selain tempat tidurnya yang masih dari futon, interior hotel dan kamarnya yang masih kental dengan budaya tradisional Jepang, makanan yang disajikan juga yang khas Kyoto, dan mereka menyediakan onsen, alias pemandian umum (yang tentunya dibedakan perempuan dan laki-laki, ya!). Jadi untuk kalian yang mau merasakan sensasi onsen, bisa dicoba di sini.

7 - Keibunsha Bookshop

Seneng banget! Itu yang saya rasakan saat menemukan Keibunsha. Bukan cuma karena perjuangan yang sudah saya lalui untuk bisa sampai ke toko buku ini (perjalanan bus satu jam dan ditambah setengah jam jalan kaki dengan bergantung pada Google Maps), tapi karena tempatnya memang sesuai dengan ekspektasi saya, bahkan beyond that!

Dari penampakkan luar bangunannya aja sudah terlihat kalau tempat ini 'special'. Entah kenapa, saya punya feeling toko buku ini dimiliki oleh seorang European, khususnya Parisian—mulai sotoy berlebihan. Tebakan ini sebenarnya karena melihat eksterior dan interior gedungnya yang pretty much reminded me of Paris. Selain menjual berbagai buku dan majalah (mostly indie) in both Japanese and English versions, Keibunsha juga menjual craft, stationery & cafe. It's such a perfect place banget tidak, sih?

8 - Demachi Futaba

Sebagai salah satu penikmat makanan manis dan kue mochi, saya pun penasaran dengan wagashi (Japanese sweets) yang menjadi salah satu makanan khas dari Kyoto. Nah, dari berbagai browsing saya sebelumnya, ternyata tempat yang paling banyak direkomendasikan untuk membeli wagashi ini adalah Demachi Futaba. Dan ternyata memang enak, kok! Tapi, berhubung saya tidak pernah membeli wagashi dari toko lain, jadinya saya tidak ada perbandingan dan tidak bisa menyimpulkan kalau Demachi ini lebih baik atau tidak. It's worth trying, regardless!

9 - Arashiyama

Kota kecil yang terkenal dengan Bamboo Groves-nya ini memang perlu dimasukkan di itinerary saat kalian berkunjung ke Kyoto. Letaknya yang dekat dengan pegunungan dan berada di kawasan rural, bisa jadi salah satu alternatif ketika kalian lagi penat dengan kehidupan kota (though I doubt you would ever get bored in Kyoto!). Dengan menghabiskan waktu sekitar dua jam, saya cukup puas mengelilingi Arashiyama, tepatnya ke Tenryuji Temple, Bamboo Groves, Togetsukyo, dan menikmati beberapa sudut kota yang berbeda dari Kyoto.

10 - Teramachi

Untuk sampai ke shopping district ini memang perlu perjuangan tersendiri. Bahkan saya hampir menyerah untuk tidak mengunjunginya karena sempat kebingungan dengan Google Maps yang mengarahkan tempat ini ke suatu daerah yang tidak sesuai dengan deskripsi "Teramachi" yang saya lihat di suatu website dan Instagram.

Beberapa kali bertanya dengan orang-orang yang saya temui di jalan, dan mereka pun tidak familiar dengan lokasinya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan salah satu wanita di jalan yang dengan sangat baiknya menanyakan ke orang lain dan mereka bahkan sempat berdiskusi tentang tempat ini. Di situ kadang saya merasa terharu dengan kebaikan orang-orang Jepang yang mau segitunya direpotkan padahal kenal juga tidak, kan.

Overall, this shopping district is well worth visiting as it has this unique vibe, especially after dark, when the streets were lighted by the lampions. Oh iya, untuk mengelilingi Teramachi sampai "tuntas" perlu waktu beberapa jam sendiri, mengingat tempat ini juga terbagi ke beberapa sub-district yang membedakan antara local, high-street and luxury brands.

11 - Pontocho Alley

Considered as one of the most beautiful streets in Kyoto, tempat ini wajib banget ada di itinerary kamu! Di sini juga masih kental banget kehidupan tradisional Jepangnya, karena di sisi kanan dan kiri gang ini dipenuhi dengan bar, hotel, 'warung' ramen, restoran keluarga, yang semuanya masih dalam bentuk aslinya alias 'kuno'. By day, it's not much to look at. But in the evening, when all the lamps have lighten the alley, Poncho becomes a magical place!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengapa 11 Tempat Mengagumkan di Kyoto Ini Ingin Aku Kunjungi Lagi?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nazura Gulfira | @nazura

I love blogging for the sake of keeping some memories alive in my mind and sharing my perspective on the world and the life that I have been living in.

Silahkan login untuk memberi komentar