Inilah 5 Jurus yang Harus Kamu Persiapkan Agar Lancar Mendapatkan Beasiswa Kuliah di Luar Negeri

Inspirasi

2.6K
“Kenapa sih kamu mau kuliah di luar negeri? Bukannya tidak enak ya, harus adaptasi lagi sama budaya setempat, ngomong harus pakai bahasa Inggris, jauh dari orang-orang terdekat, tidak bisa makan makanan Indonesia, terus tidak takut apa dikucilkan karena kamu pakai jilbab?”

Saya yakin di antara yang baca ini pasti ada saja yang berpikir: apa enaknya sih kuliah jauh-jauh ke negeri orang lain kalau memang bisa kuliah di dalam negeri? Bukan kok, bukan karena ingin pamer gelar atau ingin dilihat tinggi oleh orang lain. Bukan juga karena bisa sering jalan-jalan, atau sekolah di luar negeri bisa menjamin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari yang sekolah di dalam negeri, dan bukan juga karena saya benci Indonesia.

Alasan saya dari awal adalah karena saya ingin mendapatkan banyak pengalaman dan mempelajari hidup lebih banyak.

Kamu pasti berpikir: ini orang sok asyik banget, sih! Tetapi, itu memang jawaban terjujur yang bisa saya berikan. Dari awal saya mau kuliah, bukan hanya gelar dengan nilai yang bisa membuat orang tua saya bangga, tetapi lebih dari itu, adalah pelajaran dan pengalaman hidup yang mungkin hanya bisa saya dapatkan sekali seumur hidup saya.

Dan sekarang saya bisa bilang dengan yakin bahwa, hal yang membedakan saya dengan orang-orang yang tidak pernah merasakan kuliah atau tinggal di luar negeri dan jauh dari rumah adalah pola pikir, pengalaman dan pembentukan kepribadian menjadi diri saya yang seperti sekarang.

Ada yang bilang, sekolah di luar negeri itu jauh lebih enak kehidupannya daripada sekolah di dalam negeri.

Ada yang bilang, sekolah di luar negeri itu sudah pasti mendapatkan pekerjaan yang bagus dan sukses ke depannya.

Ada yang bilang, sekolah di luar negeri membuat seseorang berubah jadi terkena pergaulan bebas.

Ada yang bilang, sekolah di luar negeri membuat seseorang jadi apatis terhadap Indonesia dan tidak mau pulang.

Memang, selalu ada pro dan kontra ketika membahas kuliah di luar negeri. Baru-baru ini saya sempat membaca artikel yang mengatakan betapa “bahaya” nya kuliah di luar negeri. Salah satunya yang dibahas adalah karena menurut pendapat si penulis banyak orang yang beranggapan bahwa dengan kuliah di luar negeri jadi membuat mereka berpikir mencari pekerjaan lebih mudah dan menurut dia juga, mahasiswa yang kuliah di luar negeri jadi banyak yang tidak pulang ke Indonesia.

Menurut saya pribadi sih si penulisnya agak lebay ya sampai bilang “bahaya” segala. Kesannya mengerikan banget gitu kalau sekolah di luar negeri. Padahal, kenyataannya tidak kok. Bagi saya, semua pernyataan dia dan pernyataan di atas lainnya itu tergantung masing-masing orang dan tidak bisa digeneralisir.

Salah kalau kamu berpikiran bahwa sekolah dan tinggal di luar negeri itu selalu enak. Saya tidak tau kalau orang lain, tapi pada beberapa bulan pertama, saya sempat mengalami masa-masa down ketika di sana. Harus beradaptasi dengan cara hidup dan peraturan di sana, bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai macam negara, bahasa, pola pikir, sifat dan kebiasaan, belum lagi tugas-tugas yang menumpuk, jauh dari orang-orang terdekat, dan masih banyak lagi hal lainnya. Tetapi, ya di situlah tantangannya, dan di situ juga saya jadi banyak belajar hal baru. Kalau mau merasa enak terus yaaa tinggal saja di dalam comfort zone. Tidak susah, kan? He-he-he.

Hal lainnya yang sering salah ditangkap oleh orang lain adalah dengan sekolah di luar negeri jadi lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada yang sekolah di dalam negeri. Salah banget kalau kamu berpikiran seperti itu. Karena toh itu semua bergantung pada banyak faktor yang tidak bisa diukur “hanya” dari sebuah gelar yang didapatkan dari luar negeri.

Banyak orang yang takut tinggal di luar negeri karena takut akan berubah dan terkena pergaulan bebas. Kali ini saya harus bilang lagi kalau semua itu benar-benar balik lagi ke diri masing-masing.

Kalau memang kamu tidak bisa jaga komitmen kamu dan dari awal kesannya memang berniat “macam-macam” ya bisa banget kamu terkena pergaulan bebas. Tetapi, dari pengalaman saya, saya justru belajar banyak untuk terus menjadi diri saya sendiri dan semakin berpegang pada komitmen saya. Dan dengan seperti itu, orang-orang di sana tetap bisa menerima saya, bahkan menghargai komitmen saya.

Jadi benci Indonesia?

Saya tidak munafik bahwa saya sempat malas pulang ke Indonesia. Bukan apa-apa, tetapi saya merasa banyak hal-hal yang saya suka yang bisa dengan mudahnya terfasilitasi di Inggris dan dengan kondisi saya saat itu (kuliah). They are as simple as menghirup udara segar, naik transportasi publik yang nyaman, belanja baju murah meriah di charity shop (ups!) sampai rutinitas yang akan susah saya dapatkan di Jakarta, seperti masak sendiri, lari sore di taman luas yang rindang atau pantai yang bersih, volunteering dengan masyarakat setempat, dan masih banyak hal lainnya. Tetapi, pada akhirnya, saya justru semakin termotivasi untuk pulang ke Indonesia supaya masyarakat Indonesia bisa mendapatkan fasilitas yang sama di Indonesia dan merasakan kenyamanan yang saya rasakan disana.

Lalu, saya juga berpikir satu hal: kalau setiap orang yang punya kesempatan tinggal di luar negeri jadinya ingin tinggal di sana selamanya, mau jadi apa Indonesia nantinya?

“Kabur” dan menjadi warna negara orang lain bukanlah solusi terbaik, dan menurut saya, itu adalah pikiran orang-orang yang egois (dan saya yakin pasti saat ini kamu kembali mengernyitkan kening dan semakin yakin bahwa saya orangnya “sok iyeh” banget, ya kan?).

“Bagaimana caranya sih bisa kuliah dan dapat beasiswa ke luar negeri?” Nah, kalau ini baru pertanyaan yang sering ditanyakan ke saya. Sebenarnya, saya takut sih untuk menjawabnya karena setiap orang punya caranya masing-masing. Tetapi, kalau kamu mau tahu banget (he-he-he), dulu sih saya begini cara mempersiapkan kuliah ke luar negeri.

1. Remove the Doubt

Doubt kills more dreams than failure ever will. Jadi, bagi yang masih ragu-ragu, coba ditanya lagi ke diri kamu apa yang menjadi prioritas kamu saat ini. Kuliah? Kerja? Nikah? Setiap orang punya prioritas mereka masing-masing yang tidak bisa disamakan. Saya dulu sempat mengalami masa di mana saya bingung banget menentukan lebih baik cari pengalaman kerja dulu sampai beberapa tahun atau lanjut kuliah. Tetapi, akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan tentunya dibantu dengan doa dan istikharah, saya yakin untuk melanjutkan kuliah.

2. Quadruple W (Why, What, Where & When)

Jurusan apa yang kamu mau dan kenapa kamu pilih jurusan tersebut? Itu sih yang selanjutnya perlu kamu tanyain lagi ketika bercermin. Baru deh setelah tau jawabannya, coba di googling universitas mana yang paling bagus sesuai jurusan kamu.

Di sini juga terkadang sempat membuat saya labil memilih antara universitas yang punya ranking tinggi secara keseluruhan atau universitas yang punya ranking tinggi sesuai jurusan. Kalau dua-duanya seimbang sih oke ya, tetapi kalau nasibnya seperti universitas saya yang kalau dilihat dari ranking dunia kedudukannya rendah, tetapi kalau dilihat dari ranking jurusan yang saya minati kedudukannya tinggi, saya sarankan lebih baik memilih universitas di mana punya kedudukan yang tinggi untuk jurusan yang kamu minati. Karena dari pengalaman saya, orang-orang yang bekerja di jurusan yang akan kamu pilih itu biasanya lebih mempertimbangkan universitas yang rankingnya lebih tinggi di jurusan tersebut daripada universitas yang punya ranking tinggi di dunia tetapi rendah di jurusan tersebut.

Oh iya, jangan lupa juga lihat kapan mereka menerima mahasiswa baru. Biasanya sih ada beberapa intake dalam setahun, dan setahu saya, kebanyakan universitas intake di bulan September. Dengan mengetahui informasi tentang kapan mereka memulai ajaran baru, kamu jadi bisa merencanakan untuk mengambil intake yang mana.

3. How?

Setelah mendapatkan beberapa referensi universitas yang diminati, sekarang saatnya mulai mengumpulkan persyaratan yang diminta. Pada dasarnya sih yang diminta oleh berbagai universitas itu selain ijazah, transkrip dan dokumen dasar lainnya, yang kamu perlu perhatikan dan mulai dipersiapkan dari awal adalah TOEFL/IELTS, surat referensi (biasanya dua buah) dari dosen dan atasan di tempat kerja, serta motivation letter.

Nah, di motivation letter ini juga perlu kamu perhatikan karena biasanya mereka (terutama yang tidak ada interview) akan menilai apakah kamu sesuai dengan kriteria mereka atau tidak adalah berdasarkan isi motivation letter ini. Makanya, di sini kamu tunjukkan kelebihan diri kamu dan juga kasih alasan yang jelas kenapa kamu ingin kuliah di universitas tersebut.

4. Get Scholarship

Buat kamu yang punya nasib seperti saya aka keputusan lanjut atau tidaknya kuliah di luar negeri tergantung pada beasiswa, saya sarankan juga untuk sambil mencari universitas yang kamu tuju juga sambil dicari beasiswa yang mungkin kamu apply nantinya. Jadi kan beasiswa itu ada banyak macamnya, ada yang harus dapat beasiswa dulu baru penentuan universitasnya belakangan (misalnya, Fulbright Scholarship), lalu ada juga beasiswa yang mensyaratkan untuk harus ada LoA/Letter of Acceptance dari universitas yang dituju baru bisa apply beasiswanya (misalnya, Dikti, Diknas, LPDP), ada juga beasiswa dari pemerintah Indonesia dengan negara yang dituju (misalnya untuk Inggris, beasiswa Chevening), dan ada juga beasiswa yang disediakan dari universitas yang dituju itu sendiri (coba cek di @BeasiswaIndo yang biasanya suka memberikan informasi tentang beasiswa yang ditawarkan dari berbagai universitas atau juga bisa dicek di website universitasnya langsung).

Berhubung saya berhasil mendapatkan Beasiswa Unggulan Dikti, kurang dan lebihnya saya cukup mendapatkan informasi ketika apply dan mengurus beasiswa ini. Jadi, Beasiswa Unggulan Dikti ini adalah satu dari tiga macam beasiswa yang disediakan oleh Kemendikbud (ketika tahun lalu saya apply sih, hanya tiga macam beasiswa untuk luar negeri, tetapi coba dicek lagi di website mereka untuk lebih pastinya).

Tiga macam beasiswa tersebut adalah Beasiswa Unggulan Dikti yang ditujukan khusus untuk Calon Dosen; Beasiswa Luar Negeri Dikti yang ditujukan khusus untuk Dosen; dan Beasiswa Unggulan Diknas yang terbuka untuk umum. Nah, untuk Beasiswa Luar Negeri dan Beasiswa Unggulan Dikti ini meng-cover tuition fee dan living cost, sedangkan untuk Beasiswa Unggulan Diknas, (saat tahun lalu saya mencari informasinya) beasiswa ini hanya meng-cover biaya hidup/living cost saja. Untuk informasi selanjutnya bisa dibuka di website Dikti dan Diknas ya.

5. Last But Not Least

Selalu ingat bahwa semakin besar hal yang kita ingin capai, semakin besar juga perjuangannya. Jadi, jangan keburu menyerah atau keburu pusing duluan melihat list universitas mana aja yang mau dituju, atau bolak-balik cek kapan beasiswa dibuka, dan informasi lainnya.

Saya juga sempat mengalami begitu kok, rasanya sampai mual nyari informasi terutama beasiswa. Ingat juga bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Saya sendiri selalu mengingatkan ke diri saya saat saya pesimis melakukan suatu hal, “Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak?”

Yang membedakan bisa atau tidaknya itu ya balik lagi ke diri kita masing-masing, seberapa jauh sih usaha yang mau kita berikan untuk mencapainya? Jangan lupa juga untuk terus berdoa diberikan yang terbaik. Karena kadang kita lupa ketika kita udah berusaha keras tetapi belum dapat juga, mungkin ada rencana Tuhan yang lebih baik dari rencana kita.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah 5 Jurus yang Harus Kamu Persiapkan Agar Lancar Mendapatkan Beasiswa Kuliah di Luar Negeri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nazura Gulfira | @nazura

I love blogging for the sake of keeping some memories alive in my mind and sharing my perspective on the world and the life that I have been living in.

Silahkan login untuk memberi komentar