Mengintip Rahasia Karier Cemerlang Dion Wiyoko

Sosok

5.4K
Belajar pentingnya sebuah proses agar menjadi aktor yang andal dari Dion Wiyoko.

SIAPA menyangka aktor Dion Wiyoko yang namanya kian terkenal lewat film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar ini saat masa menapaki karier sering mengalami jatuh-bangun.

Ya, pria kelahiran 3 Mei ini pernah menjadi tukang membawa makanan di acara nikahan dan membawa barang-barang Dian HP (Hadipranowo), pengiring lagu terkenal di program televisi. Namun, pria berparas tampan ini melihat kondisi tersebut ialah bagian dari proses yang perlu ia lewati–-dari visi yang ia buat.

Ia yakin akan ada waktunya untuk memerlihatkan bakat aktingnya. Dan benar saja, suatu ketika kesempatan itu datang, ia mampu membuktikan, hingga tawaran demi tawaran berdatangan, dan beberapa tahun kemudian ia mampu jadi aktor terkenal di jagat film Indonesia.

Akan tetapi, bagaimana kesempatan itu datang dan apa yang membuatnya kuat menjadi tukang membawa makanan di acara nikahan itu? Untuk mengetahuinya simaklah petikan wawancaranya di bawah ini.

Kalau harus dideskpriksikan, bagaimana awal perjalanan seorang Dion Wiyokohingga hingga menjadi seperti sekarang ini?

Saya memulai karier di showbiz di dunia modeling, namun karena dimodeling karya yang saya hasilkan biasa-biasa saja, akhirnya keluar dari manajemen dan kerja freelance di wedding organization.

Berjalannya waktu saya ketemu manajer saya sekarang, dan ditawari masuk manajemennya, dan akhirnya menerima tawaran itu karena merasa inilah dunia yang saya suka dan passion saya di sini. Dari situ akhirnya mencoba dunia akting. Awalnya sinetron, kemudian lanjut FTV (film televisi) sampai ke layar lebar seperti sekarang ini.



Apakah terjun ke dunia akting sebagai usaha pengembangan diri apa memang sudah ada ketertarikan di sana?

Awalnya memang modeling, pernah ikut kompetisi majalah-majalah juga dan sempat menang. Pokoknya, saya menjalani di dunia showbizz dari nol, deh. Casting ke banyak tempat, dan banyak juga nggak diterima. Dua tahun saya sampai nggak diterima.

Pas dapat job foto catwalk pun catwalk yang fun, soalnya tinggi saya tanggung.

Dan pas saya terjun di ke dunia seni peran, awalnya grogi. Dalam hati, "Bisa nggak ya gue,” akhirnya saya lumayan dapat pengalaman. Pengalaman diomelin dan nervous itu pokoknya alamiahlah. Itu pasti dialamin setiap pendatang baru,

Walau diomelin saya coba terus. “Masa orang lain bisa gue nggak bisa, sih”, itu ucapan yang saya ulang berkali-kali kala dapat kejadian pahit.

Pokoknya, segala pengalaman pahit itu semua sudah saya alamin semua. Malu? Ya malu! Tetapi, saya terus mau nyoba, hingga sampai di suatu titik, dari segala kepahitan yang saya alami, ternyata saya memang harus mengalami itu semua.

Kalau saya punya visi dan misi yang jelas dan positif, kenapa berhenti? Sekalipun sulit dan banyak halangan, kalau kita usaha, sama Tuhan pasti dikasih jalan terus. Meski nggak langsung naik; meski naiknya bertahap, setiap tahun ada progresnya. Dan itu yang meyakinkan saya untuk terus nggak pernah menyerah.

Pernahkah kamu menemukan “aha moment”? Artinya sebuah langkah berani atau langkah awal dari perubahan positif yang membawa kamu hingga menjadi sekarang?

Saya orangnya cukup ambisius. Jadi, setiap perjalanan hidup saya, pengalaman-pengalaman pahit, semua itu jadi pelajaran buat saya. Saya cukup banyak melakukan sharing dengan aktor lain buat karier saya, dan dengan isi obrolan itu mencoba merefleksikan diri, dan saya sadar itu hal yang positif.

Di mana pengalaman sayan jalani itu nggak enak, segala kejadian pahit, masalah besar, atau hal yang sampai ingin menyerah saya kaitkan dengan orang di sekitar dan nasibnya lebih buruk, itu yang membuat saya harus bersyukur. Setiap saya ingat-ingat pengalaman yang saya dapat, meski kesedihan ada di setiap titik itu, saya bisa terus mengsyukuri itu. Karena proses itu penting, memang penting.

Seberapa penting? Bisakah diberikan gambaran?

Proses itu yang membuat kita tahu diri, tetap rendah hati, istilahnya saya pun nggak mau sombong dengan apa yang saya dapatkan sekarang. Karena itu semua pakai proses, saya mau casting ke sana-kemari. Ditolak, saya menerima, diomelin sutradara pun itu jadi masukan buat saya.

Saya sendiri menyayangkan teman-teman saya yang lebih mudah mencapai kesuksesan, tapi dia angkuh dan sombong duluan. Saya ngomong seperti ini dalam konteks bukan membandingkan, cuma terbersit aja dalam hati, “Lo belum kena aja sih proses “susah-susah” dulu, kalau lo ngerasain, lo pasti bakal bisa me-maintenance karier lo lebih baik dan lebih dewasa.

Hmmm ..., Apa arah pernyataan kamu ke ungkapan ‘yang cepat naik, bakal lebih cepat turun’, sesuatu yang cepat dapat kepopularitasan, bakal cepat juga turun juga?

Iya, bisa juga. Tapi ungkapan itu saya nggak percaya yang 100 persen. Sebab hoki orang berbeda-beda. Ada yang sekali ngeluarin single lagu atau film .., Duar! Kariernya naik banget. Dan kalau dia sendiri bisa meyakinkan diri ‘gue berbakat nih’, dan dia bisa menjaga kualitasnya, itu sudah jadi jalan pintasnya dia. Iya udah, dia berada di level itu. Kalau dia terkenal, semisal youtuber yang terkenal karena sensasi dan dia nggak berinovasi agar tetap disukain, iyaudah pasti hilang sendiri.



Paham. Dan biasanya kalau yang membuat dia bertahan ya passion-nya tuh, kan ...

Yap! Betul

Tetapi, buat kamu sendiri, apa sih arti passion itu? Cukup nggak passion bikin kita buat jadi aktor andal?

Passion itu adalah salah satu yang yang bikin saya nyaman –apapun yang saya kerjain. Baik kerjaan yang memang dasarnya fun maupun yang serius.

Dan kalau passion cukup apa nggak buat jadi sukses, jawabannya tidak. Karena percuma, kalau kamu punya passion tapi kamu nggak punya kegigihan, nggak punya semangat dan kerja keras.

Tapi konkretnya apa dalam kerja keras itu? Apakah kita harus menjadi aktoratau pemain watak. Sebab ada ungkapan kalau "pemain watak" itu bakal kepake terus–semisal Tio Pakusadewo–bila dibandingkan bintang film karena mereka ada masanya?

Begini, kalau di awal-awal (karir) coba aja semua–kalau memang bisa. Seperti saya saat masuk dunia akting, saya mencoba semua. Sinetron sampai FTV saya pernah. Kemudian saya jadi MC (Master of Ceremony), nge-host juga, istilahnya kita harus membuka diri banget, nah dari situ kita tahu mana yang nyaman untuk kita dan yang bisa kita eksplor lebih.

Misalnya saya, kalau nge-host program sports dan travelling saya nyaman, tapi kalau acara musik, saya nggak. Di dunia layar lebar juga, sempet saya main di genre horor dalam Kuntilanak Beranak (2006), tapi pas saya jalanin, saya sadar akan visi saya bahwa saya mau berkarya, bukan hanya sekadar eksis. Saya mau serius di film, saya ingin menunjukan prestasi, bukan sensasi.

Oleh karenanya, setiap project film yang saya dapatkan, saya ingin sesuatu yang berbeda, yang bila ditawarkan oleh sutradara kawakan saya ingin menyerap ilmu dari sana. Dari kolaborasi itu, pengalaman pasti saya dapatkan, hingga nantinya menjadi “tabungan”.

Terus klimaks-nya apa, diferensiasi dengan aktor lain atau apa matang saat membawakan karakter disuatu film?

Saya sih nggak terlalu mikiran apakah menjadi berbeda dengan aktor lain atau nggak. Tapi dengan sendirinya karakter yang kita bawain akan menjadi kuat. Saya sendiri sadar banyak kekurangan di-project film sebelumnya, tapi saya mau improve dari kekurangan itu.

Dengan begitu kan dengan sendirinya orang sinaeas–mulai dari sutradara, penulis naskah sampai produser—atau yang suka nonton film indonesia bisa ngeliat perbedaannya, “Eh si A ada peningkatan nih’, dan otomatis, dengan sendirinya orang yang membentuk image saya, bukan saya yang meng-set saya harus begini.

Malah kalau kaya gitu, nggak natural. Dan sebenarnya, belajar dari pengalaman itu sudah luar biasa. Sementara, pemain watak seperti orang yang suka main teater, pasti bagus juga. Memang pengalamannya juga bagus, dalam banget orang teater kalau ngebawain karakter. Tetapi tidak harus main teater, ada kok aktor yang bagus. Buat saya sih, pengalaman bisa kita ambil dari mana saja, dan saya juga pernah belajar akting dari acting coach. Jadi saya sampai saat ini mengambil dari semuanya. Dan bila dapat project film yang menuntut kebutuhan tertentu, saya tinggal mengeluarkan pengalaman atau ilmu yang saya kumpulkan--sesuai kebutuhannya.

Hmm ... jadi memang harus menjalani proses entah seperti apa tekanannya. Biar nanti tekanan itu mematangkan kita sendiri, ya ...

Iya. Saya tuh pernah baca tagline ya, dan tagline-nyaitu ngena banget sampai saat ini buat saya. Tagline-nya: setiap ada cita-cita, percaya pada proses. Itu simpel, tapi benar banget.

Maksudnya, ya kamu harus punya cita- cita, kalau kamu nggak ada mimpi atau visi-misi, iyaudah, maaf, ngapain juga hidup. Tapi ketika kamu punya cita-cita, setia dengan proses itu, percaya atas apa yang dituju, akhirnya kamu percaya dengan proses, dengan kamu percaya proses itu, kamu pasti bisa mencapai satu titik, yaitu apa yang kamu cita-citakan.



Setuju. Setiap kita pasti punya titik kecemeranglangan masing masing, asal mau tekun.

Persis. Banyak yang bilang begini sama saya, “Eh Yon kok kenapa nggak mau jadi artis sinetron kan duitnya banyak?’ Tapi sekarang begini, tujuan hidup kamu nggak hanya punya uang 10 miliar. Tapi bila kamu punya satu miliar dan itu cukup, kamu bisa enjoy menikmati hidup dan kamu bisa berkarya dan menujukan prestasi ke orang banyak. Itu kepuasannya beda. Coba aja kamu bayangkan bila kamu punya 10 miliar tapi kamu begitu-begitu aja prestasinya. Gimana?

Ini bukan berarti saya mengucilkan teman- teman saya. Tidak. kita punya tujuan hidup masing-masing. Kalau saya ditanya, ya begitu jawaban saya. Bukan saya ngejar duit banget, tapi saya ingin tetap berkarya juga, dari apa yang saya nyaman, passion, dan yakini.

Jadi narik napas dalam-dalam nih. Hehe. Oh iya, omong-omong kamu pernah dihadang berbagai masalah dalam proses menjadi aktor, pernah ada nggak yang membuat kamu terlempar ke titik zero– yang mungkin menguji passion kamu jadi aktor?

Jatuh-bangun sudah sering banget. Saya ngerasa down banget saat saya ngejalanin modeling selama 3 tahunan. Saat itu saya ngerasa stuck, saya ngerasa nggak bisa ngapa-ngapain lagi, sampai saya keluar dari agensi dan saya jadi freelance. Saya kerja di event organizer, jadi tukang bawa-bawa makanan untuk talent, nge-handle acara. Pokoknya, kerja yang “kasar-kasar” gitu. Sampai akhirnya saya dapat tawaran kerja dari bank swasta, di mana kondisinya saya lagi skripsi. Iyaudah, saya menjalani proses rekruitmen, mungkin ini sudah jalan saya dan puji syukur diterima.

Tapi anehnya saat itu saya diserang kebimbangan padahal jurusan kuliahsaya manajemen, yang memang pas. Dan malam harinya, saya ketemu sama manager artis, dikasih kartu nama. Dan pas dia menelpon saya untuk mengajak gabung ke manajemennya, tentu saya tidak percaya 100 persen.

Setelah kejadian itu, saya ngobrol dengan keluarga saya, dan kakak saya memberi saran bahwa kalau tawaran kerja di bank itu gampang. Sebab jadi sales ya cuma gitu-gitu saja. Sementara tawaran masuk manejemen ini, kondisinya saya sudah setengah jalan di dunia showbiz. Sudah kepalang basah, kata kakak saya.

Iyaudah, saya mencoba meyakinkan diri, hingga akhirnya saya menolak kerjaan di bank. Dan memulai lagi dunia showbiz– berproses lagi. Dalam hati saya, “Gue mau tahu mentoknya di mana sih ini.”

Tapi jangan dibayangkan setelah itu saya langsung banjir tawaran kerja. Di tiga bulan awal, karena manager saya tahu saya punya pengalaman di EO sebagai runner acara, saya ditugaskan membawa barang mba Dian HP (Hadipranowo), pengiring musik di televisi. Mengatur kebutuhan dia.

Malu? Tidak. Saya nggak ada masalah atas apa yang saya lakukan saat itu. Pikir saya, inilah proses awalnya. Dan pada suatu titik manajer saya akhirnya sadar bahwa dunia saya bukan di sana. Dia melihat saya punya bakat akting, ada kemampuan lebih untuk bisa di-eksplor. Setelah itu saya dikontrak probation, kerjaan berdatangan. Awalnya “masuk” sinetron. Sinetron selesai, datang tawaran iklan. Setelah itu, datang tawaran main FTV (film televisi), lanjut ke presenter. Lanjut lagi kefilm layar lebar dan akhirnya sampai jadi sekarang ini.

Mantaap ..., proses memang nggak pernah bohong, ya ....

Ya, proses nggak mungkin mengkhianati hasil. Apa yang kamu dapat, selalu setimpal dengan apa yang kamu upayakan.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengintip Rahasia Karier Cemerlang Dion Wiyoko ". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


qalbinur nawawi | @qalbinurnawawi

a reader, lifestyle journalist, and freelance writer. | email: nawawi.qalbinur@gmail.com

Silahkan login untuk memberi komentar

mike donald | @LOANFIRM

Hola, ¿Está buscando libertad financiera? ¿Está en deuda, necesita un crédito para iniciar un nuevo negocio? ¿O doblar financieramente, usted necesita un crédito, un coche para comprar o una casa? ¿Alguna vez ha rechazado las finanzas de su banco? ¿Quieres mejorar tu situación financiera? ¿Necesita un préstamo que sus cuentas pagan? No busque más, le damos la bienvenida a una oportunidad para obtener todo tipo de préstamos, a un precio muy asequible 3% de interés para obtener más información, póngase en contacto con nosotros ahora por correo electrónico a: (stevedanielloanfirm@gmail.com)