Lewat 5 Cara Inilah Saya Mendapat Ide Menulis yang Tak Pernah Habis

Berkarya

22.6K
Tindakan menulis justru memungkinkan kita mendapatkan ide untuk menulis.

Di lokakarya tulis-menulis maupun mengajar mata kuliah “Creative Writing” di kampus, ada ‘frequently ask question’, yaitu “Bagaimana cara mendapat ide menulis?”

Pertimbangkan 5 cara ini saja untuk mendapatkan ide menulis:

1. Read

Bacaan adalah sumur ide yang tak pernah kering. Bacaan apa saja bisa men-trigger kita untuk menulis lebih dalam, lebih jauh, dan lebih lengkap. Apa saja bisa jadi ide. Billboard di jalan-jalan pun bisa jadi ilham. Ketika pulang dari Blitar ke Surabaya, di depan saya ada truk dengan tulisan: “Black Manis” (maksudnya “hitam manis”). Saat saya foto dan saya forward-kan ke teman, dia menambahkan: “Di Malang malah ada Skul Duck (nasi bebek) Pak.” Jadilah ide untuk menulis berjudul “Kacaunya Bahasa Indonesia Kita”. Saat mengunjungi bekas tambang emas, saya melihat ayakan besi dengan tulisan “In Cash We Trust!” Plesetan dari tulisan yang ada di pecahan dolar ini menggelitik saya untuk menulis tentang uang.

Selain arti harafiah dari ‘read’, kita pun bisa ‘membaca’ banyak hal untuk dijadikan tulisan. Inilah yang disebut ‘mengamati’ miliu (lingkungan) baik benda mati maupun benda hidup. Saat melihat debu yang diterbangkan angin, saya membuat puisi berbahasa Inggris berjudul “The Almighty” yang merupakan puisi bahasa Inggris pertama saya yang dimuat di majalah You & Me.

Ketika membaca selembar poster bergambar orang Indian Amerika dengan tulisan “Only when the last tree has died and the last river been poisoned and the last fish been caught will we realise we cannot eat money”, dawai di hati saya langsung bergetar dan menggetarkan jemari saya untuk menari-nari di atas keyboard laptop dan … tada … jadilah sebuah kolom berjudul “Keinginan”.



Waktu mengantar pasutri mengunjungi bekas erupsi Merapi yang luar biasa itu, di antara pepohonan yang tumbang dan berserakan di mana-mana, hati saya tergelitik untuk menulis sebuah artikel berjudul “Perjalanan Hidup”. Dalam perjalanan menuju hotel di Dili, saya membaca billboard yang berbunyi: “A new King in Town” muncullah ide untuk menulis kolom berjudul “Raja”.

Keahlian ‘membaca’ ini juga kita pakai untuk ‘membaca’ situasi atau wajah orang. Jika sedang menunggu sesuatu, saya sering mengamati perilaku orang-orang tertentu. Misalnya, di sebuah antrean, saya senang memperhatikan tingkah laku orang-orang itu. Ada yang cuek bebek. Ada yang asyik nonton TV bisu di depannya. Ada juga yang khusuk memainkan smartphone-nya. Bahkan, jika saya sedang melihat wajah orang yang tampak sedih dan merenung keras, otak saya pun ikut merenung dengan pertanyaan, “Kira-kira apa ya yang sedang menjadi pergumulan orang itu, sehingga wajahnya sampai ditekuk begitu?” Jika sudah sampai titik ini, biasanya saya pun ikut ‘think’ agar bisa saya tuangkan menjadi ‘ink’ seperti judul buku Writer to Writer—From Think to Ink karya Gail Carson Levine.

Alangkah beruntungnya jika ternyata kita punya kesempatan untuk mengobrol dengan orang itu, sehingga ‘jendela jiwanya’ terkuak dan kita bisa ‘membaca’ kisah hidupnya. Cerita yang meluncur dari bibir orang-orang semacam ini sayang sekali jika kita lewatkan, bahkan bisa menjadi tulisan yang sangat menarik. Saat berjalan-jalan di Darling Harbour, Sydney, saya pernah mendapatkan kisah seperti ini dan langsung jadi sebuah cerpen yang mengasyikkan.

Namun, jangan bergantung kepada keberuntungan. Saya percaya bahwa sebuah ilham justru akan tenggelam jika kita tidak aktif menyelam. Jika ada sesuatu yang menarik dari seseorang, datangi dan selami apa yang ada di telaga jiwanya. Kita akan menemukan mutiara-mutiara kehidupan yang tak ternilai harganya.

2. Ask Questions

Jika Anda menemukan sesuatu yang aneh, ganjil, atau mengganjal di hati, coba tanyakan kepada diri sendiri: “Mengapa begini? Mengapa begitu?” Di lemari buku saya ada deretan buku dalam jumlah besar dengan judul Why. Siapa yang beli dan mengoleksinya? Yang mengoleksi Yosafat anak saya, sedangkan yang beli saya he-he-he. Seorang sahabat bahkan membelikan saya buku berjudul Shi Wan Ge Wei Shen Me. Buku berbahasa mandarin ini membahas seratus ribu ‘mengapa’ yang terjadi di sekitar kita.

Ketika jalan-jalan ke sebuah ski resort dan menikmati salju yang turun, tiba-tiba benak saya memberontak dan berteriak, “Apakah bunga salju itu identik satu sama lain?” Ternyata dari konsultasi saya ke Mbah Google, saya tahu bahwa tidak ada satu pun snowflake yang sama persis satu sama lain. Dari penelusuran itu saya membuat sebuah tulisan berjudul “Salju” yang saya hubungkan dengan manusia yang juga unik, karena tidak ada satu manusia pun—bahkan kembar sekalipun—yang identik.

Pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik di hati maupun otak kita, jika tidak kita biarkan tergeletak, tetapi kita carikan jawabannya, bukan hanya bisa menjadi ide yang menarik untuk tulisan, tetapi bisa menghasilkan penemuan baru. Contohnya, penemuan penisilin.

Alexander Fleming, ilmuwan Skotlandia, waktu itu sedang riset di Rumah Sakit Santa Maria, menemukan adanya hambatan pertumbuhan bakteri di piringan kultur Staphylococcus. Dia mulai bertanya, “Kok bisa begini, ya?” Nah, dari situ dia sengaja membiakkan atau menumbuhkan kultur murni dan menemukan penicillium (Chrrysogenum). Ditemukanlah obat baru yang sampai sekarang masih sangat bermanfaat bagi dunia kedokteran.



Wartawan bisa menghasilkan tulisan yang baik seringkali harus melewati proses yang satu ini, yaitu bertanya. Oleh sebab itu sampai ada guyonan di antara jurnalis bahwa seorang reporter itu adalah seorang generalis dengan spesialisasi satu: bertanya. Itu sebabnya mengapa seorang wartawan tampak canggih dan pintar dalam berbagai bidang ilmu yang bahkan tidak pernah disentuhnya di bangku kuliah. Semua itu memungkinkan karena dia bisa mencari orang dengan bidang ilmu yang sedang dia garap. Kita bisa juga melakukan kolaborasi dengan orang dari bidang ilmu lain. Ketika menulis buku tentang SARS, saya bekerja sama dengan dokter dari sebuah rumah sakit.

Kita bahkan bisa memakai metode bertanya ini untuk menulis hampir buku apa saja. Caranya? Sederhana saja. Temukan ide yang pas. Cari tokoh-tokoh utamanya atau orang-orang yang terkait erat dengan ide itu. Wawancarai. Tambahkan data di sana-sini. Tuliskan. Jadi buku!

Buku-buku biografi biasanya dihasilkan dengan cara seperti itu. Buku Sepatu Dahlan, Surat Dahlan dan Senyum Dahlan adalah kisah trilogi perjalanan hidup Dahlan Iskan yang ditulis oleh Khrisna Pabicara. Demikian juga buku Si Anak Singkong yang ditulis oleh wartawan Kompas Tjahja Gunawan Diredja. Buku 100 Stories Man—The Journey of Xavier Quentin Pranata (X-tra Publishing, 2015), ditulis oleh penulis muda berbakat Melissa Berliana.

3. Think

Tindakan berpikir bukan saja membuat kita semakin cerdas tetapi juga menjadi sumber ide yang selalu meluber. Tentu saja tindakan ini berhubungan juga dengan tanya jawab yang terjadi di sel-sel abu-abu di balik tempurung kepala kita. Proses ini bisa memakan waktu berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Untuk tulisan yang pendek pun kadang dibutuhkan pemikiran yang mendalam. Apalagi jika kita menulis kolom. Kolom, meskipun pendek, seringkali membahas dan mengupas masalah yang pelik, tetapi harus tetap dengan bahasa yang bisa dimengerti banyak orang, istilahnya ‘ilmiah populer’ atau ‘ringan berbobot’.

Kita juga perlu memikirkan batasan. Tulisan berjudul ‘Air’ tentu terlalu luas bagi kita. Orang akan bertanya-tanya, “Apa menariknya air?” Air pun bisa kita kategorikan bermacam-macam. Air minum tentu berbeda dengan air mandi. Air minum memang bisa untuk mandi, tetapi air mandi belum tentu cocok untuk kita minum. Ada lagi air raksa. Air keras. Air mata. Dan sebagainya. Dan selanjutnya. Kita pun bisa memilih apakah air itu dalam bentuk susunan kimianya seperti H2O atau air dalam arti puitis. Misalnya, kata-katanya mengalir seperti air.



Sekarang, coba kalau saya minta Anda memikirkan tentang air, kira-kira ‘air’ dalam kategori apa yang menarik untuk dijadikan tulisan? Saya pernah membaca tulisan yang menarik tentang ‘air’ ini. Seorang diudang tuan tanah yang kaya untuk berkunjung ke rumahnya di Eropa. Setelah melewati jalan yang panjang yang diapit oleh pepohonan yang rindang sampailah dia di rumah bertingkat yang—meskipun kuno—tetapi tetap terpelihara dengan apiknya.

Begitu masuk, seorang kepala pembantu rumah tangga membawanya ke ruang tamu yang luas yang dindingnya dipenuhi lukisan besar-besar.

“Bapak mau minum apa?” tanya kepala asisten rumah tangga itu.

“Kopi atau teh?”

“Kopi ,” jawabnya.

“Kopi impor atau lokal?”

“Impor.”

“Kopi Aceh, Arabika, Torabika, Toraja?”

“Arabika saja.”

Black atau tambah susu.”

“Tambah susu.”

“Susu murni atau cream?”

“Susu murni.”

“Pakai gula atau tidak?”

“Pakai.”

“Gula pasir, gula batu, atau gula diabet?”

“Sudah air putih saja!” ujar tamunya mulai jengkel.

“Air mineral atau air suling?”

“@#$%!”

Tulisan yang menggelitik sekaligus menjengkelkan, namun, idenya cukup menarik, kan?

4. Go

Jalan-jalan membuat ide bermunculan. Karena sering traveling, sebuah majalah bulanan meminta saya untuk mengisi terus rubrik “Jalan-Jalan”. Ide begitu melimpah saat kita jalan-jalan. Ketika berada di Columbia Icefield, saya tidak menyangka bahwa udara begitu dingin. Soalnya saya berangkat pas musim panas. Isteri dan anak saya membawa jaket tebal. “Untuk jaga-jaga,” ujar isteri saya yang memang tidak tahan winter.

“Nggak salah nih, jaket winter di saat summer?” begitu ujar saya dalam hati. Ternyata isteri saya benar. Saya yang saltum. Begitu turun dari “Ice Explorer” saya kaget karena suhunya minus 5!

Jadilah tulisan berjudul “Winter in Summer” yang dimuat di majalah Inspirasi, Jakarta.



Saat berada di New York pas waktu Donald Trump kampanye di Trump Tower, saya mampir ke Waldorf Astoria Hotel. Begitu melihat hotel megah langganan para tokoh dan selebriti dunia ini, saya mencari tahu sejarahnya. Ternyata hotel itu dibangun oleh pasutri tua yang saat berada di Philadelpia ditolong oleh seorang front desk. Karena high season dan ada beberapa konferensi di kota yang tidak jauh dari New York itu, semua kamar ‘fully booked’. Namun, karyawan hotel itu menawarkan kamarnya sendiri, agar pasutri tua itu tidak kesulitan cari kamar hotel lain. Kebaikan karyawan rendahan itu membuat pasutri kaya itu terkesan dan membangunkan hotel bintang lima di pusat kota New York. Dia menjadi GM pertama hotel megah itu. Tulisan itu saya beri judul “Extra Mile” karena George C. Bold memberikan pelayanan yang lebih dari tanggung jawabnya.

Buku saya Season Sonata saya tulis saat saya bertugas di negara empat musim dan melewati setiap musim kehidupan. Semula buku itu saya beri judul Seasons of Life, tetapi oleh penerbitnya diganti Seasons Sonata karena saat itu Indonesia sedang gandrung film Winter Sonata.

5. Write

Lho, cari ide menulis kok menulis? Jangan salah. Tindakan menulis justru memungkinkan kita mendapatkan ide untuk menulis. Saat saya tidak mendapatkan ide dan menghadapi ‘layar kosong’ di laptop saya, saya malah langsung menulis begitu saja. Banyak buku saya terbit justru dengan cara ini. Saat saya menarikan jari jemari saya di atas keyboard laptop, ide tiba-tiba saja mengalir dengan derasnya.



Tulisan untuk Virala ini pun saya kerjakan dengan langsung membuka dan menarikan jemari saya di atas keyboard. Seperti tagline sebuah merek pakaian dan sepatu olahraga, Just Do It!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Lewat 5 Cara Inilah Saya Mendapat Ide Menulis yang Tak Pernah Habis". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata