Jurus Jitu Agar Novel Jadi Best Seller Ala Okky Madasari

Sosok

5.3K
Jangan pernah biarkan karya yang kamu hasilkan tak bermakna dalam bagi para pembaca.

TIGA novel dialihbahasakan dan pada tahun 2012 mampu menyabet Khatulistiwa Literary Award–penghargaan bergengsi untuk dunia sastra Indonesia–sudah menunjukan kualitas karya novelis Okky Madasari.

Menariknya, penggagas dan Programme Director ASEAN Literary Festival ini saat terjun ke dunia tulis tak bergabung komunitas menulis, di mana biasanya komunitas jadi tempat memercepat proses belajar menulis fiksi. Bahkan ia pula tak memiliki first reader untuk membawa naskahnya kian matang, agar mudah tembus ke penerbit.

Tentu, bisa terbayang, bagaimana susah payah ia menulis novel kala itu. Tapi faktanya, ia berhasil, dan kini menjadi salah satu novelis terbaik yang dimiliki Indonesia.

Lantas, muncul beberapa pertanyaan dalam pikiran kita: bagaimana bisa seseorang membuat novel bagus tanpa sharing dengan sesama penulis dan tembus ke penerbit?

Bagaimana proses kreatifnya sampai karya dihasilkan mencuri perhatian pembaca dan sampai bisa dialihbahasakan?

Nah untuk menjawab pertanyaan itu, temukan jawabannya dalam petikan wawancara di bawah ini ?



Kamu sudah merilis 5 novel (Entrok, Maryam, Pasung Jiwa, 86 dan Kerumunan Terakhir), hampir semua karya dialihbahasakan dalam bahasa asing, plus pernah menang Khatulistiwa Literary Award tahun 2012. Yang mana semua itu menguatkan kamu sebagai salah satu novelis terbaik Indonesia. Tapi mencoba flashback, bagaimana sih awal perjalanan seorang Okky Madasari hingga menjadi seperti sekarang? Apakah tertarik menulis novel karena kamu ingin menyuarakan kritik–sebagaimana tercermin dalam novel-novel kamu yang pesannya rerata berpihak pada kaum tertindas, atau ingin menulis novel karena terinspirasi membaca novel bagus?

Saya sudah jatuh cinta pada dunia kepenulisan sejak duduk di bangku SMP. Saat itu saya sudah mulai aktif menulis untuk majalah dinding sekolah. Lalu di bangku SMU saya mengelola majalah sekolah yang dicetak setiap empat bulan sekali, saya menulis dan mengedit berbagai artikel untuk majalah tersebut.

Sejak di bangku sekolah pula saya sudah bercita-cita untuk menjadi jurnalis. Saya kuliah di jurusan Hubungan Internasional UGM (Universitas Gadjah Mada) dengan terus memelihara cita-cita saya untuk jadi jurnalis. Selama menjadi jurnalis kemampuan menulis saya semakin terasah.

Pada masa ini pula saya semakin percaya pada kekuatan sebuah tulisan untuk mempengaruhi pembacanya, untuk menyuarakan persoalan dalam masyarakat, untuk menggugat dan menggugah.

Hingga kemudian pada satu titik saya merasakan bahwa jurnalisme tak mampu lagi menampung seluruh kegelisahan dan ekspresi pikiran saya.

Saya pun memutuskan beralih kedunia sastra, dengan menulis novel. Tapi semangat yang saya dapatkan saat menekuni jurnalisme masih terus terpelihara. Yaitu bagaimana agar novel-novel saya bisa menghadirkan persoalan dalam masyarakat, bisa menggugah kesadaran pembaca, memberi cara pandang baru bagi pembaca.

Bagaimana reaksi keluarga dan teman saat kamu memutuskan untuk total di dunia menulis?

Tahun 2009, ketika memutuskan untuk mulai menulis novel, saya resign dari pekerjaan saya sebagai jurnalis. Tentu saja itu sebuah keputusan yang membuat kaget banyak orang, terutama orangtua dan sahabat-sahabat saya. Saya sendiri pun merasakan kegalauan luar biasa.

Apakah keputusan saya ini benar?

Apakah saya bisa menulis novel?

Apakah novel yang saya tulis bisa saya selesaikan?

Apakah akan ada yang mau menerbitkan dan membaca?

Apakah semuanya tidak sia-sia?

Di tengah segala kegalauan, ketidakpastian, dan pertanyaan-pertanyaan tanpa henti dari banyak orang, suami saya menjadi satu-satunya orang yang percaya pada kemampuan saya untuk menulis novel. Ia mendukung saya sepenuh hati. Ia memberikan saya keleluasaan untuk melakukan apapun yang saya inginkan. Hingga akhirnya novel pertama saya Entrok benar-benar terbit tahun 2010 dan langkah saya tak terhenti hingga hari ini.

Pernahkah kamu menemukan momen titik tolak dalam hidup kamu yang membuat kamu menjadi seperti sekarang?

Keputusan saya untuk menikah di usia sangat muda (24 tahun) dan keputusan saya untuk meninggalkan karier dan memulai sepenuhnya menulis novel di usia menjelang 25 tahun. Itu dua keputusan besar yang saya lakukan dengan mempertaruhkan banyak hal-untuk sesuatu yang tidak pasti. Tapi berkat dua keputusan itu saya sampai pada titik ini.

Selain itu, saat proses menuju kepiawaian menulis, apakah kamu pernah mengalami kejadian pahit yang membuat drop dalam menjalani karier menjadi penulis, semisal diremehin first reader karena naskah novel kamu terlalu “berat” atau ditolak penerbit? Bila ada, boleh diceritakan? Apa yang kamu lakukan setelahnya hingga bisa mengeluarkan karya novel yang bagus dan jadi penulis ternama?

Masa-masa awal memulai perjalanan saya sebagai novelis adalah masa yang berat. Saya tak punya kenalan sama sekali di dunia ini, tak bergabung dengan komunitas sastra apapun. Saya benar-benar berjalan sendirian. Tapi kemudian perjalanan waktu menunjukkan bahwa pada akhirnya karya yang bicara. Kualitas sebuah karya, konsistensi kita, yang akan menentukan nasib kita. Saya orang yang beruntung punya sifat keras kepala dan terus konsisten menjalani apapun, tetap berkarya, menulis terus, tak peduli dengan apapun yang terjadi.

Bicara inspirasi, dari mana saja inspirasi saat menuliskan cerita di novel kamu?

Inspirasi dari realitas di sekitar kita. Dari persoalan-persoalan dalam masyarakat kita. Dari kegelisahan saya terhadap kehidupan yang saya jalani ini.



Dari semua buku karangan kamu, buku mana yang menjadi favorit dari kamu sendiri? Kenapa?

Sulit menjawab itu. Semua lahir dengan kisah dan keunikan masing-masing. Semua adalah kepingan jiwa dan pikiran-pikiran saya.

Untuk menghasilkan novel, berapa lama biasanya waktu riset yang kamu lakukan?

Tergantung. Bisa tiga bulan, bisa tiga tahun.

Musik jenis apa yang paling bisa membuat kamu enjoy saat menulis?

Classic rock, dan jazz.

Menyoal proses kreatif menulis novel, boleh diceritakan proses kreatif kamu? Apakah kamu sudah mempunyai timeline kapan naskah harus selesai dan slot jam nulisnya, atau seselesainya mengalir saja mengikuti perkembangan karakter dari outline yang kamu "bangun"?

Saya tidak bisa menulis fiksi dengan deadline waktu. Saya bisa menulis apapun, esai, tulisan ilmiah, berita dan sebagainya dengan deadline, tapi tidak untuk fiksi. Saya biasanya berangkat dari satu ide besar, lalu saya turunkan ide besar itu dalam karakter. Selebihnya saya hanya mengikuti bagaimana perjalanan pikiran dan jiwa karakter itu. Semua mengalir begitu saja. Saya tak pernah membuat outline.

Dalam membuat outline plot cerita–entah drive-nya berdasarkan informasi yang disembunyikan dalam plot atau perubahan karakter dari tokoh, mana yang paling banyak sering kamu 'pakai'? Alasannya?

Saya tak pernah membuat outline. Semua berangkat dari karakter yang mengacu pada ide besar.

Kini kamu sudah menghasilkan lima novel dan mendirikan ASEAN Literary Festival (ALF). Dari konsistensi menulis buku dan berkegiatan dibidang literatur sampai saat ini, adakah value yang kamu perjuangkan?

Bahwa setiap apapun yang kita lakukan, mulai dari menulis hingga berkegiatan, semuanya harus dilakukan karena cinta. Cinta kita pada bidang yang kita geluti, cinta kita pada sesama manusia dan nilai-nilai kemanusian.

Biasanya bila sebuah novel diterima banyak orang dan mempunyai pembaca setia, dari segilintir pembaca itu pasti ada keinginan untuk menulis novel. Namun pada saat mereka menulis–yang notabene pemula–mereka sering mengalami kendala mood dan writers block saat menulis naskah pertama mereka. Namun sebagian penulis menilai mood hanyalah alasan untuk kita tak menulis. Mereka berpikir menulislah dulu–seburuk apapun hasilnya. Nanti, tinggal “dijahit” saja hasil tulisan yang tadinya buruk itu, hingga akhirnya jadi enak dibaca, dan selesai. Bagaimana pandangan kamu, apakah kamu melihat menunggu mood datang memang hanya sebuah alasan untuk kita tidak menulis, atau seperti apa?

Untuk menulis novel, kita tidak bisa mengandalkan mood. Menulis novel butuh napas panjang, energi, konsistensi, fokus, dan prioritas. Semua itu harus terus dipelihara, apapun dan bagaimanapun mood kita.

Dan kamu sendiri bagaimana cara mengatasi kendala itu?

Jika mood saya buruk, saya istirahat dulu. Melakukan hal-hal lain: membaca, jalan-jalan, olahraga, dan sebagainya.

Saat ini kemudahan internet dan self publishing makin memudahkan banyak penulis muda lahir. Namun dalam waktu yang sama, persaingan lebih sulit karena semakin banyak penulis yang lahir, bagaimana agar penulis pemula bisa menang dari persaingan itu; bisa menunjukan karyanya–bahkan kalau perlu karya kita jadi bestseller dan dialihbahasakan?

Jangan sampai kita terjebak pada kemudahan hingga melahirkan karya-karya instan dan dangkal. Di dunia sekarang ini, kita harus tetap memelihara kedalaman dan kejernihan pikiran. Itu yang bisa menyelamatkan kita. Bukan hanya untuk persaingan, tapi dalam kehidupan itu sendiri.

Menurut kamu, apa arti passion? Cukupkah passion bisa membawa kita jadi penulis novel yang andal?

Passion bagi saya adalah dorongan untuk melakukan sesuatu yang kita cintai tak peduli apapun tantangannya. Passion saja tak cukup jika tak dibarengi dengan pengetahuan dan sikap kritis.

Terakhir Mbak. Sebagai seoarang novelis, apa pesan kamu untuk orang yang di luar sana yang ingin menjadi penulis novel? Apakah mencoba menulis dari cerpen dulu apa langsung novel ?

Menulislah, apapun bentuknya. Saya dulu rajin menulis di blog. Itu langkah awal yang bagus untuk memasuki dunia penulisan.[]


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jurus Jitu Agar Novel Jadi Best Seller Ala Okky Madasari". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


qalbinur nawawi | @qalbinurnawawi

a reader, lifestyle journalist, and freelance writer. | email: nawawi.qalbinur@gmail.com

Silahkan login untuk memberi komentar