Jadi Penulis Produktif dalam Segala Kondisi, Berikut 10 Tips yang Bisa Kamu Coba

Industri Kreatif

1.6K
Dari pengalaman saya ini, kamu pun bisa menambahkan daftarnya dari pengalaman Anda sendiri. Begini cara saya agar tetap produktif menulis meski sedang tidak mood.

Entah pengin jadi penulis, baru ikut seminar, atau bahkan pelatihan berbayar mahal cara menulis buku, kamu pasti mengalami yang namanya ‘tidak mood’ atau sebenarnya kamu sudah rajin menulis, tetapi ingin meningkatkan produktivitasnya namun tidak tahu caranya. Selama puluhan tahun menulis artikel sampai buku, saya mendapati 10 cara yang bagi saya efektif untuk meningkatkan produktivitas saya. Dari pengalaman saya ini, kamu pun bisa menambahkan daftarnya dari pengalaman Anda sendiri. Begini cara saya agar tetap produktif menulis meski sedang tidak mood.


photo credit: The Sweet Setup

1. Paksa

Lho, kesannya kok kejam sekali. Tapi, percayalah, cara ini sering berhasil. Karena terus menunda mengerjakan disertasi saya, saya paksakan diri untuk cuti dari kegiatan kantor selama satu bulan. Hanya pekerjaan penting seminggu sekali saya tetap saya kerjakan. Sisanya saya pakai untuk mengerjakan disertasi saya. Ternyata berhasil. Apa yang membuatnya berhasil?


2. Buatlah deadline

Namanya saja ‘garis mati’, jika saya melewati tanggal yang telah saya tetapkan—lebih tepat lagi ditetapkan oleh kampus—maka saya tidak bisa menyerahkan disertasi saya. Akibatnya, saya tidak bisa di wisuda tahun itu. Memang ada tahun depan, tetapi bukankah penundaan senantiasa menyisakan pekerjaan yang semakin menumpuk? Dengan adanya deadline, otak dipaksa untuk bekerja. Rasa malas bisa tergilas jika kita bersikeras.


3. Pilih waktu favorit

Tolok ukurnya ini: kapan waktu yang bagi kamu paling enak untuk bisa menulis? Bagi saya pagi hari yang terbaik. Mungkin kamu bukan termasuk ‘manusia pagi’, tetapi ‘manusia kelelawar’. kamu lebih suka begadang. No problem! Pakai waktu itu sebaik mungkin.


4. Cari tempat yang paling nyaman

Paling nyaman bukan berarti membuat kamu tertidur, tetapi yang enak kamu pakai untuk menulis. Saya tidak punya tempat favorit. Bagi saya, tempat yang paling nyaman untuk menulis adalah di perpustakaan dengan jaringan internet antilelet. Meja dengan ketinggian yang pas dan kursi empuk yang bisa berputar untuk mengambil buku di sekeliling saya merupakan ‘surga’ untuk menulis. Saya bisa betah menulis berjam-jam dengan kondisi seperti ini. Waktu tinggal di Melbourne, saya bisa menulis banyak sambil menghadap jendela kamar di apartement saya.


5. Jadikan kebiasaan baru

Setiap pagi dan menjelang tidur saya selalu sikat gigi. Jika terlewatkan, saya tidak bisa tidur atau berangkat kerja dengan tidak percaya diri. Nah, buatlah kebiasaan menulis seperti itu sehingga saat tidak melakukannya sehari saja, jemari terasa gatal-gatal karena tidak bisa diketukkan di atas keyboard.


6. Singkirkan gangguan

Kita memang tidak bisa menghilangkan gangguan di sekitar kita, tetapi bisa menyingkirkannya dengan dua cara: membuatnya tiada atau menutup pancaindera kita terhadap hal selain proses menulis. Matikan notifikasi handphone, pakai silent mode. Matikan nada getar. Penuhi layar komputer kita hanya untuk kegiatan menulis, sehingga kita tidak diganggu oleh iklan yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.


7. Jadikan ‘me time’ sebagai ‘writing time’

Bagi saya pribadi, me time adalah saat untuk menghabiskan waktu bagi diri sendiri yang biasanya saya isi dengan membaca atau melihat kanal YouTube tentang pengembangan pribadi. Saat membaca atau mengisi baterai saya itulah biasanya juga membuat hasrat menulis saya melesat. Memakai me time untuk menulis cukup menyenangkan. Coba saja sendiri.


8. Gabung dengan grup penulis

Waktu masih mahasiswa, saya menjadi anggota Himpunan Pencinta Cerpen dan Puisi (HPCP) Kaki Langit. Tidak lama kemudian bersama sesama rekan penulis mendirikan Himpunan Pencinta Cerpen dan Puisi (HPCP) Cakrawala. Waktu itu kami sering nyangkruk (Jawa = duduk) bersama di Balai Pemuda Surabaya untuk sekadar ngobrol santai atau melakukan pembacaan cerpen dan puisi bersama. Teman-teman sesama penulis bisa ngompori kita untuk tetap menulis.


9. Rajin berkunjung ke penerbit

“Ada naskah baru Pak Xavier?” demikian sapaan yang sering saya dengar setiap kali saya mengunjungi penerbitan buku. Terus-terang, tantangan dari penerbit itulah yang membuat saya tidak bisa berhenti menulis. Jika sudah berjanji, masa diingkari?


10. Jadi pengasuh rubrik

Karena mengasuh empat kolom di media massa baik di Surabaya, Jogja maupun Jakarta, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus menulis. Bagaimana kalau lupa? Mereka yang ingatkan. Peristiwa ini tidak pernah saya lupakan. Waktu itu musim dingin. Saya sedang berada di Sydney. Tengah malam, sekretaris media massa nasional menelpon saya. Isinya singkat, tapi membuat saya terperanjat. “Naskah Pak Xavier kami tunggu lho!” Mau tidak mau, meskipun mata lengket, saya bangun, buka laptop dan mulai menulis serta mengirimkannya beberapa saat kemudian. Itulah kolom tercepat yang pernah saya buat.

BACA JUGA


7 Kunci Jadi Content Writer Andal yang Wajib Kamu Praktikkan Biar Jadi Penulis Profesional

7 Kunci Jadi Content Writer Andal yang Wajib Kamu Praktikkan Biar Jadi Penulis Profesional

Kamu harus memperhatikan hal-hal ini supaya konten yang kamu tulis bisa menarik jutaan mata dan meninggalkann kesan mendalam bagi para ...

Read more..

Kamu bisa menambah daftar ini dengan pengalaman Anda sendiri. Salah satu pepatah yang baik untuk mengingatkan kita agar terus menulis dan tidak menunda-nunda pekerjaan adalah ini: “Do it now. Sometimes ‘later’ becomes ‘never’.” Betul kan?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jadi Penulis Produktif dalam Segala Kondisi, Berikut 10 Tips yang Bisa Kamu Coba". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

Silahkan login untuk memberi komentar