[Wawancara Eksklusif] Rahasia Sukses Kebab Turki Baba Rafi Jadi Global Brand (Bagian 2-Habis)

Sosok

1.7K
Kebab Turki Baba Rafi berhasil stand out di kuliner kebab setelah memutuskan bisnis dalam bentuk franchise. Ratusan gerai pertahun ialah bukti sahih berkembangnya usaha yang dimiliki Hendy Setiono.

Usaha Hendri Setiono sekarang ini sudah mampu menembus 1200 gerai dan sudah ada di 8 negara (Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, Belanda, Tiongkok dan Srilanka).

Melihat kenyataan itu kita pun muncul satu pertanyaannya: bagaimana ia bisa "melebarkan sayap" usahanya ke luar negeri dan mampu bertahan?

Nah, untuk mengetahui jawabannya, simak wawancaranya di bawah ini.



Kalau membuka usaha di luar negeri itu, membuka sendiri apa investor tertarik jadi franchiser Kebab Turki Baba Rafi?

Dua-duanya. Tapi kalau yang kita pakai master franchise. Cara ini sudah digunakan brand kelas dunia, kaya Mcdonald. Semua ada hak patennya dan konkretnya kita memberi hak bagi si penerima laba untuk membuka usaha. Dan ekspansi di ASEAN kami berpartner dengan local partner atau pengusaha di negara yang ingin kita buka.

Kalau bisnis kita ekspansi ke luar negeri, Kebab Turki Baba Rafi ikut demografi masyarakat sanakah? Apa Anda ingin mempertahankan keunikan rasa yang ada saat ini?

Sejauh ini rasa kebab kita kuat banget Asia-nya. Sehingga, bisa mudah diterima dan berkembang di negara ASEAN. Contohnya, di negara Brunei di mana jadi negara omset tertinggi. Itu bisa terjadi lantaran di sana tidak hiburan, seperti klub malam, bioskop dan entertaiment-nya cuma makan.

Biasanya, para pengusaha memiliki gerakan filantropi–sebuah gerakan pemberdayaan atau kedermawanan untuk sesama–bagaimana Kebab Turki Baba Rafi, apakah juga memiliki pergerakan dalam bentuk filantropi?

Kita punya gerakan filantropi juga. Saya percaya akan the power of giving. Di mana kita akan mendapat timbal baliknya. Dalam konsep islam, kita mengenal istilah: semakin banyak memberi, semakin menerima. Saya jadi ingat dulu saat di mana omset jualan belum ramai dan tabungan belum banyak, saya mentransfer uang ke suatu yayasan. Tapi, kemudian tak lama dapat orderan katering.

Dari situ saya mendapat rezekinya yang berlipat, dan saya menjadi ketagihan. Dan saya tersadar bahwa bisnis dijalani dengan the power giving bisa berjalan dua arah atau menjadi berkah. Dan itu bentuk tidak hanya dalam bentuk uang, bisa juga lewat knowledge. Sesuai keahlian masing-masing orang.

Konkretnya Nilam, partner bisnis saya bikin kegiatan womenpreneur. Itu fokusnya menginspirasi anak muda untuk mendirikan usaha kecil menengah (UKM). Sampai saat ini kegiatan itu masih berjalan dengan baik dan didukung beberapa pihak. Materi pembelajaran saya elaborasi dari literatur dan pengalaman yang pernah saya lewati. Dan keinginan saya sederhana: saya ingin mereka–para UKM–nantinya bisa seperti saya.

Anda kan juga merupakan hasil dari program wirausaha, apa bedanya program Anda dengan program lainnya?

Ya, saya alumni wirausaha muda Mandiri dan juara pertama. Bedanya dengan program kita, Baba Rafi Academy, programnya lebih untuk UKM yang mau “naik kelas”, sementara kalau Wirausaha Mandiri baru ingin memasuki bisnis kita.

Jadi, bisa dibilang, ini empowering (pemberdayaan) kita, karena kita menuntun bisnis mereka; bagaimana financial plan-nya, bagaimana mencari lokasi usaha yang bagus, ataupun membuat bisnis menjadi franchise. Hal-hal ini yang kita beri ke mereka sehingga teman-teman saat pulang bisa menerapkannya.



Jadi, kalau Wirausaha Mandiri atau seminar yang Anda narasumberi itu dapat motivasi sampai langkah awal memulai berbisnis, sementara kalau dari program Anda lebih untuk jenjang lebih serius?

Iya, bisa dikatakan seperti itu. Kalau ikut seminar atau talkshow sifatnya eye opener. Hanya sebagai pembuka wawasan, mentalitas, bahwa ‘kita bisa kok berwirusaha’. Nah untuk Baba Rafi Academy lebih ke teman teman yang sudah menjalani usaha, minimal satu tahun, dengan omzet 45 juta per bulan.

Materinya mengenai bagaimana cara mengembangkan cabang, bagaimana membangun local brand menjadi global brand, dan lain sebagainya.

Jadi, kita memberikan dukungan ke pelaku UKM dan pertigabulan sekali, kita ngasih evaluasi melalui ngobrol. Sampai sekarang ini batch mentoring-nya sudah ke-13.

Dalam menjalani Baba Rafi Academy, ada kesalahpahamankah yang dialami peserta dalam proses empowering saat mengajarkan para KM dan membuat Baba Rafi Academy belajar atau mendapat insight baru?

Ada. Contohnya saya kira, bilau mau cepat berkembang usaha itu harus dengan franchise. Saya mikirnya mereka harus mengikuti pola yang sama dengan saya. Ternyata tidak, sekarang ada tren digital, yang jadi peluang bisnis baru dan butuh treatment yang berbeda lagi.

Orang bisa berjualan tanpa harus ada barangnya atau lapaknya. Jadi, kita balikan lagi kebisnis yang ingin mereka jalankan masing-masing. Efeknya, sifatnya pemberian materinya bukan lagi mentoring yang menggurui, tapi sharing.

Mereka mengambil satu poin yang bisa diterapin buat mereka sendiri.

Mengapa? Kalau menutut, "Eh, kamu harus seperti ini atau seperti itu," itu bukan filantropi yang benar juga. Kalau mereka bisa mengambil sesuai dengan kebutuhannya, itu lebih works.

Adapun Babarafi Academy mulai dari tahun 2013, di mana dulu bentuknya ialah coaching. Tapi baru tahun 2015 mereka sendiri memilih jalannya. Singkatnya, semuanya nggak bisa harus franchise, tapi lihat kebutuhan mereka, apakah ingin kerja sambil membuka usaha, memperkuat bisnis pertamanya di dunia digital, dan seterusnya.

Apakah pernah ada, di satu sosok atau komunitas ternyata dia memberi inspirasi baru dalam entrepreneurship?

Sandiaga Uno, mentor saya, dia adalah seorang filantropi, beliau tidak hanya sukses sebagai pebisnis tapi social movement juga sangat luar biasa. Misalnya, dia membuat Berlari untuk Berbagi, sebuah gerakan berlari sambil beramal, Mien R Uno Foundation, sebuah organisasi non profit yang memberi beasiswa, itu semua menginsiprasi saya.

Dari hobi saja bisa jadi filantropi, dan bisnis juga ada filantropinya. Saya pikir, kenapa Mas Sandi bisa, saya tidak bisa. Iya udah, saya akhirnya bikin filantropi dari apa yang saya miliki.

Dan kenapa saya pilih pelatihan dalam bentuk Baba Rafi Academy, kebetulan saya di Kadin (Kamar Dagang dan Industri) UKM, saya kompartemen di bagian pengembangan wirausaha di bawah Mas Sandi yang jadi Wakil Ketua Umum dan Kreatif.

Kemudian, dari perjalanan bisnis Anda sampai saat ini. Sebenarnya adakah value yang ingin diperjuangkan?

Tentu ada. Saya membaginya internally dan externally. Secara internally kita punya keinginan menjadi world biggest kebab chain, jadi jaringan terbesar usaha kebab di dunia. Meski kita lihat sendiri di wikipedia, di internet, belum ada gerai sebanyak Kebab Turki Baba Rafi, dan sudah merambah 8 negara.

Exsternally, saya ingin bisa menginspirasi mahasiswa bila lulus kelas bisa membuka usaha sendiri. Saat ini kan berwirausaha jadi lifestyle baru generasi muda, dan saya ingin berkata, ”Bisa lho berwirausaha dari usia muda. Yuk, ah kita coba. Pun kalaupun gagal kita masih banyak waktu untuk belajar. Kemudian kita jalani lagi, pasti hasilnya lebih baik. Dan kita bisa menjadi wirausaha di usia muda.”



Lebih dalam, saya ingin membantu pelaku usaha muda di Indonesia bisa sukses mengembangkan bisnisnya secara nasional dan global. Sehingga, apapun tantangan di depan, kita melihatnya menjadi sebuah optimisme.

Ambil contoh MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), kalau kita melihat dalam kacamata positif ini memudahkan kita memenetrasi bisnis kita. Saya baru membuka Kebab Turki Baba Rafi di Vietnam dan bahan bakunya saya kirim dari sini (Indonesia).

Bagaimana operasionalnya bisa berjalan dan apakah rumit? Tidak. Saya tinggal meng-hire orang untuk jadi country manager, dengan saya training di sini. Bila selesai, saya balikin lagi ke Vietnam. Susah? Ah, Uber–perusahaan rintisan penyedia transportasi – memulainya Cuma dengan 8 orang. Jadi ..., mengapa saya nggak bisa, kalau dia bisa. Tinggal training-in tiga bulan, dan dijadiin franchise, selesai. Low cost.

Oalah gitu, ya ..., Berarti kalau kita tarik benang merah, menjalani usaha itu penuh lika-liku ya dan kalau saya tanya adakah shortcut atau tip untuk bisa cepat sukses di bisnis kuliner, sepertinya nggak ada ya? Bagaimana?

Yup! There is no elevator to be success. Dalam artian, tidak ada sukses yang instan. Semua yang berhasil diawali dengan usaha yang “berdarah darah”.

Melihat kenyataan itu, menurut saya lebih baik kita menghargai prosesnya. Menikmati tahapan demi tahapan prosesnya, terus take action meski hasilnya kurang memuaskan. Dari situ, insya Allah kita bisa menjalani usaha kita sampai sukses.[]


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "[Wawancara Eksklusif] Rahasia Sukses Kebab Turki Baba Rafi Jadi Global Brand (Bagian 2-Habis)". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


qalbinur nawawi | @qalbinurnawawi

a reader, lifestyle journalist, and freelance writer. | email: nawawi.qalbinur@gmail.com

Silahkan login untuk memberi komentar