[Wawancara Eksklusif] Rahasia Sukses Kebab Turki Baba Rafi Jadi Global Brand (Bagian 1)

Sosok

2.5K
Pengusaha kuliner ini blak-blakan bagaimana usaha kuliner sukses dari local brand menjadi global brand . Untuk mengetahuinya, baca artikel di bawah ini sampai habis, ya!

Sudah 12 tahun Kebab Turki Baba Rafi eksis di dunia kuliner. Sampai saat ini, bisa dibilang usahanya sukses diterima masyarakat. Buktinya, ia sudah memiliki 1200 outlet dan sudah merambah 8 negara. Namun demikian, semua itu tidak dapatkan dengan mudah begitu saja. Ya, Hendy Setiono, pemilik Kebab Turki Baba Rafi mengaku mengalami jatuh-bangun dan bahkan sampai hampir bangkrut. Tapi, lantaran ia yakin bahwa usaha yang ia rintis merupakan passion-nya, ia pandang segala batu sandungan yang membuatnya terjatuh sebagai proses pematangan diri dan bisnisnya. Dan justru dari situ dia menemukan formula untuk bisa melesatkannya dia di bisnis kuliner ini.

Tertarik mengetahui apa formula kesuksesannya? Baca petikan wawancaranya di bawah ini.

Sukses sebagai pengusaha kebab, bagaimana sih awal perjalanan Hendy Setiono hingga jadi seperti sekarang? Catatan saya, Anda sudah mencoba berapa banyak usaha kuliner?

Wah iya, benar. Saya sudah memulai bisnis nggak langsung dari kebab kemudian bertahan sampai saat ini gitu aja. Saya gagal berbisnis itu banyak. Mulai dari bisnis roti, kerja sama dengan klien yang nggak berjalan lagi. Terhitung 10 jenis usaha kuliner saya geluti, dan 12 tahun berjalan kebablah yang masih sustainable.

Mencoba flashback, dulu sampai Anda bisa memutuskan berbisnis kebab ini sendiri gimana ceritanya?

Awalnya saya ingin menjenguk orang tua saya di Qatar. Kemudian saat saya tingal di sana, secara tidak sengaja mencoba kebab. Dan karena rasanya yang enak, saya pun sering membelinya, hingga tersadar ‘Kenapa saya tidak memulai usaha ini di Surabaya?’

Iya udah, setelah ada niatan itu, saya beli kebab sambil mengajak ngobrol pembelinya untuk tahu cara memasaknya. Sepulang dari Qatar, tahun 2003, dalam status masih mahasiswa semeter 4 saya memulai membuka usaha kebab. Dan sejak saat itu saya berfokus ingin menjadi pengusaha, hingga sampai sekarang ini.

Tapi dalam proses perjalanannya, apakah Anda pernah mengalami ‘aha moment’? Sebuah moment titik tolak perubahan kehidupan Anda.

Iya, tapi ‘aha moment’ itu muncul secara tak sengaja. Umumnya, setiap kita mengejar cita, pasti kita punya “why”-nya hingga kita melakukan sesuatu. Saya sebaliknya. Saya bisa dibilang dulu orangnya “lurus banget.” Dalam artian, saya ingin sekolah di sekolah favorit–-di setiap jenjangnya, kemudian masuk universitas favorit, bekerja di perusahaan asing dengan gaji gede, dan kehidupan yang datar-datar saja.

Dan itu saya dapatkan, satu demi satu.

Mulai dari SMA, saya sekolah di SMA 5 Surabaya yang mana sekolah favorit, kuliah juga di Institut Teknologi Sepuluh September( ITS) Surabaya. Tapi ternyata, tak diduga-duga, “why” saya dapatkan saat saya menjenguk orang tua saya di Qatar.

Di sana saya bertemu kebab yang disebut burgernya orang arab. Sering memakannya saya jatuh cinta dengan kebab, hingga muncul kegelisahan kalau nanti sudah balik ke Surabaya dan tidak bisa makan kebab lagi.

Melalui kegelisahan itu akhirnya saya pulang ke Surabaya dengan membawa ide membuka usaha kebab. Dan waktu dulu, sesaat sampai saya benar benar membuka gerobak pertama kebab. Bahwa pemikiran wirausahawan dalam membuka usah harus optimis, punya bussiness plan, harus bisa mengevaluasi dan lain sebagainya, saya lakukan sambil berjalan.

Jadi, apa yang saya capai saat ini awalnya tidak saya bekali di awal. Intinya, saya merasa ‘aha moment’ yang saya dapat itu dari hal sepele di sekitar kita.

Oleh karenanya, saat diundang talkshow entrepreneurship, saat mereka ingin membuka usaha, saya menyuruh mereka mencari alasan atau unsur “why”-nya. Dan itu setiap orang berbeda-beda alasannya. Semisal, ada yang ingin membahagiakan orang tuanya atau ada yang ingin menunjukan ke calon istrinya.



Kalau momen yang membuat mental Anda down atau menguji passion Anda dalam berbisnis, ada?

Pasti. Saya merasakan hal itu saya membangun bisnis saya. Apa penyebabnya? Saya kurang dipercayai oleh pegawai saya. Saya diremehin. Percaya atau tidak, mereka nggak respect dengan saya kala itu. Itu terjadi karena umur saya 19 tahun saat membuka usaha ini, sementara yang bekerja di tempat saya usianya lebih tua.

Banyak yang mengira saya nggak becus. “Ini bener nih dia bisa menjalani bisnis? Muka masih culun begitu juga, jangan-jangan masih main-main,” begitu kira-kira pemikiran mereka terhadap saya.

Terus bagaimana?

Saat itu memang sangat menyakitkan. Mental saya benar-benar diuji. Apalagi saya orangnya enggan berorganisasi saat jadi mahasiswa, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa dan Unit Kegiatan Mahasiswa.

Tapi, dari terpaan itu saya jadi tahu pentingnya mental dan leadership. Bahwa keadaan yang memaksa kita justru bagus–-tanpa kita sadari.

Kita belajar situasi yang di luar kontrol kita. Dan itu justru membuat saya mengsyukuri segala prosesnya walaupun diremehin, diolok olok, baik pegawai sama saudara saya.

Namun, semua itu membuat saya berusaha harus melakukan yang lebih baik lagi. Belajar kemampuan memimpin, mengelola konflik, dan mengambil keputusan dari pilihan yang sulit. Dan impact-nya ..., ya sekarang ini. Kita tidak mudah tersungkur diterpa angin masalah.

Bicara passion, apa arti passion buat Anda?

Sebuah potensi keahlian yang ada di dalam diri kita. Mengaca pada diri saya sendiri di mana passion saya jadi pengusaha, dengan minat di makanan, makanya saya buka usaha kuliner. Bila Anda menjalani apa yang Anda suka, Anda tak ubahnya seperti melakukan hobi yang dibayar.

Makanya, dalam beberapa kesempatan seminar, ada yang nanya, “Mas Hendy, bagaimana ya cara memulai bisnis?” Jawaban saya biasanya menggambil minat mereka. Kemudian take action dengan niat “iseng-iseng” dulu, dan biasanya tahu-tahu berhadiah. Sukses.

Menurut Anda sendiri, cukup nggak sih passion bikin kita sukses?

Ketimbang bicara sukses atau tidak. Saya lebih senang bicara begini: berbisnis itu sifatnya up and down. Serba tidak pasti, tidak menentu, penuh risiko dan tantangan. Kalau karier yang kita jalani, katakanlah membuka usaha coffee shop, tapi nggak passion, begitu ada masalah pasti lebih cepat nyerah.

Tapi kalau kita bangun usahanya dengan hati atau passion, saat ada masalah mikirnya jadi: “Ah ini bagian perjalanan membangun hobi kita, nih.”

Efeknya, kita pun jadi nggak gampang menyerang, justru kita ingin membangun lagi. Kita bakal selalu antusias, yang dicari selalu improvement dan improvement. Kalau saya bercermin di kehidupan saya, banyak teman yang curhat ke saya malas sekali untuk bangun pagi, “Aduh ..., udah pagi lagi. Kekantor lagi, ngadepin deadline lagi.”

Kalau saya malah ingin cepat-cepat ke kantor. “Setelah sampai kantor ngapain ya enaknya, mikirin strategi marketing kreatif terbaru atau ciptain produk baru.”

Itulah enaknya ngejalanin pekerjaan dengan passion.



Menarik. Lantas, apakah Anda sendiri memandang diri Anda sudah sukses?

Saya pikir, sukses itu proses yang nggak pernah berhenti. Proses yang dinamis dan butuh kita kelola. Saya ingat sebelum Kebab Turki Baba Rafi sudah 1200 outlet dan tersebar di 8 negara, saya nyaris bangkrut di tahun kedua saya mendirikan usaha.

Perasaan saya campur aduk, antara sedih dan cemas, “Bagaimana nasib karyawan saya nanti kalau usaha saya tutup,” atau, “Bagaimana keluarga saya nantinya?”

Namun, karena saya terus menerus mau belajar. Saya sharing dengan orang yang menjalani bisnis serupa, konsultan bisnis, franchise, dan begitu saya franchise Kebab Turki Baba Rafi jadi luar biasa. Dan proses itu masih terjadi sampai sekarang. Saya ingat baru masuk ke negara Belanda prosesnya satu tahun baru bisa buka.

Kenapa?

Di Indonesia enak, kita bisa buka usaha dulu dan ngurus BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) dan izin lainnya bisa belakangan. Kalau di belanda tidak bisa demikian. Harus lulus sertifikasi semacam BPOM dulu, dan itu yang membuatnya bulan September 2015 kita bisa membuka cabang di Eropa.

Intinya, kalau dari visi yang ingin Kebab Turki Baba Rafi yang ingin capai, yakni menjadi usaha kebab terbesar di dunia, saya memandangnya belum sukses.

Kebab Turki Baba Rafi lekat dengan kreatif dan inovasi. Dari produk, Anda menciptakan Black Kebab Detox Free dan terobosan konsep Make Your Own Kebab di mana Anda membebaskan pelanggan membuat kebab sesuai seleranya. Adakah sumber inspirasi atau role model yang Anda miliki?

Ada dua. Di dalam negeri, Sandiaga Uno, kalau di luar negeri Richard Branson pemilik Virgin Airlines. Richard Branson ini ialah idola saya membuka bisnis kuliner.

Lho kok dia, bukan dari pengusaha kuliner?

Oh ..., saya suka Richard Branson karena kreativitasnya. Contohnya, saat dia mempromosikan Virgin Airlines pertama kali, dia menyewa tank melewati jalan di New York bertuliskan Virgin Airlines. Dan akhirnya semua media di seluruh dunia meliput itu, dan disadari atau tidak, itu jadi promosi gratis.

Sementara mas Sandi, saya terinspirasi dengan gerakan charity dan social impact-nya. Lewat dia saya makin tersadar ternyata bisnis tak hanya making profit saja tapi make it society better. Entah itu dari produk yang kita jual, membuka lapangan kerjaan, ekonomi lebih baik.

Jadi, di titik ini, bisnis tak hanya berpikiran bagaimana mengeruk keuntungan aja, namun juga menyumbang kehidupan lebih baik bagi sekitar kita.

Menyoal sekarang era digital, ada tidak pergerakan Kebab Turki Baba Rafi ke ranah digital?

Iya, kita juga bertransformasi ke digital. Pergerakan kita dulu tergolong tradisional food, dan bergerak di strategi marketing offline, tapi sekarang trennya sifatnya digital. Kita sendiri mendukung.

Sering saya saat jadi pembicara, banyak yang nanya: “Mas Hendy apa sih bisnis yang bagus itu?”

Saya jawab bisnis yang berbasis kebutuhan sehari-hari, seperti fesyen kuliner, plus dikombinasikan dengan teknologi.

Mengapai harus dikombinasikan? Sebab saat ini kita sudah era digital, yang mana semua kebutuhan kita bisa didapat dalam ponsel–hanya dalam sebuah genggaman saja. “Jadi sebaiknya, apapun yang bisnis yang kamu bangun, harus ada website, paham cara membuat konten yang disukai follower, bagaimana banyak yang memberi like dan orderan banyak,” ucap saya kepada mereka. Memang, dari tantangan, offline maupun online itu sama. Tapi sekali Anda bisa mengombinasikan, usaha bisnis Anda bakal mendapat loncatan besar.

Saya sendiri punya www.babarafi.com. Di sana saya menjual semua yang dibutuhkan untuk para franchiser, mulai dari alat untuk marketing, membeli makanan dalam bentuk kemasan dan lain sebagainya.[]


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "[Wawancara Eksklusif] Rahasia Sukses Kebab Turki Baba Rafi Jadi Global Brand (Bagian 1)". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


qalbinur nawawi | @qalbinurnawawi

a reader, lifestyle journalist, and freelance writer. | email: nawawi.qalbinur@gmail.com

Silahkan login untuk memberi komentar