Bila Penerbit Menolak Naskahmu, Jangan Menyerah! Jane Austen pun Pernah Merasakannya, dan Ini 4 Tipsnya untuk Kamu

Industri Kreatif

11.4K
Karena menyerah memang hanya untuk pecundang, kan?

INDUSTRI KREATIF - Menjadi penulis memang keren. Melihat karya bisa mejeng di toko buku memang rasanya bikin meleleh dan berasa terbang ke nirwana. Bila bukunya laris, malah juga difilmkan, dibikinkan komiknya, dan derivasi produksi konten kreatif lainnya.

Duh, rasanya bikin nggak bisa napas.

Tetapi, ada juga yang hingga sekarang belum mampu menembus tempat angker bernama penerbitan. Mungkin beberapa pelajaran dari Jane Austen ini bisa menjadi inspirasi buat kamu yang mau masuk ke industri kreatif dan menjadi salah satu penulis kenamaan negeri ini di masa mendatang.

1. Tak seperti kebanyakan penulis di zamannya, Jane Austen memang menentang arus


Kebanyakan, penulis di zamannya itu menyeruakkan tema tentang petualangan dan imaji yang liar. Sebut saja yang mengusung tema itu seperti Daniel Defoe, Samuel Richardson, atau Henry Fielding. Tapi Jane tidak, ia justru menampilkan tema yang unik: dengan setting-an yang selalu bangsawan, ia seringkali mengisahkan gadis muda yang mencari jati diri.

Dan itu sangat menggemparkan.




Bagaimana tidak, sosok wanita di zaman dahulu, adalah kasta kedua dalam kehidupan sosial. Tema yang diangkat Jane, sangat tidak lazim. Menjadi anti mainsteram memang perlu pengorbanan khusus, baik dari segi waktu, karakteristik karya, dan juga kesabaran untuk percaya pada karya.

Ikut arus memang aman, namun itu juga akhirnya membawa kita ke tempat yang sama dengan orang-orang.

Berkaryalah dengan unik, dan ruang gelegar bagi karyamu di masa depan akan lebih mendapat tempat. Percaya saja pada visimu.


2. Ditolak penerbit bukanlah tanda bahwa dunia sudah berakhir


Sense and Sensibility novel pertamanya, terbit. Tapi pasar belum beraksi apa-apa atas karyanya itu. Hingga dua tahun kemudian, naskah Pride and Prejudice pun ketika ditawarkan ke penerbit, semuanya tak menggubris.

Naskah Jane tertolak dengan sukses. Bahkan, sang ayah, yang mengerti benar tentang kemauan besar anaknya ini, ikut membantunya menghubungi penerbit-penerbit di London, tapi sepertinya, gayung belum juga bersambut. Tapi Jane, terus menulis.

Bahkan lebih bersemangat menulis.




3. Jangan berhenti berkarya


Kita belajar dari Jane tentang tak kenal lelah berkarya. Jika ada di suatu hari dalam hitungan hari-hari kita, kita mengingini karya kita diterbitkan menjadi buku, dan naskah sudah kita siapkan sedemikian cantik dan memesona, namun penerbit belum ada yang mau membuka matanya sekali saja untuk melirik karya kita, berhentikan kita dari cita itu?

Jangan. Tidak. Sekali-kali jangan, sekali-kali juga tidak.


4. Pegang Erat Mimpimu Sendiri

Jika mimpimu tak kau pegang erat, lalu siapa yang akan dengan senang hati memegang eratnya? Teruslah berkarya, lalu tunggu keajaiban.

Karena jika kamu berhenti, kamu akan ketinggalan kereta keajaiban yang mampir di terminal masa depanmu.




Oke, jadi sekarang, sudah semangat lagi untuk berkarya, kan?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bila Penerbit Menolak Naskahmu, Jangan Menyerah! Jane Austen pun Pernah Merasakannya, dan Ini 4 Tipsnya untuk Kamu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Fachmy Casofa | @fachmycasofa

Managing Editor Virala.id. Writer of best seller national book, Habibie Tak Boleh Lelah dan Kalah!, Founder Satria Foundation and Epixplay Karya Indonesia | www.fachmycasofa.com or fachmycasofa@gmail.com for more creative collaboration.