Bagaimana Seharusnya Penerbit Memanfaatkan Sosial Media untuk Mempromosikan Buku?

Industri Kreatif

631
Keberadaan sosial media makin memudahkan kita untuk melakukan promosi buku. Hanya perlu melakukan beberapa hal sederhana namun hasilnya sangat powerful.

Meski demikian, dalam penerbitan sebaiknya untuk promosi melalui internet perlu dibagi menjadi dua: buku unggulan dan bukan unggulan. Memang semua buku yang terbit telah melalui serangkaian seleksi, sehingga semuanya pasti sudah masuk dalam kategori buku unggul. Akan tetapi, tetap perlu dipilah mana yang benar-benar membutuhkan promosi yang lebih dan tidak.

Setiap penerbit setidaknya memiliki tiga hal wajib dalam dunia maya. Pertama, website resmi. Kedua, akun Twitter. Ketiga, akun Facebook. Lebih baik lagi, bila ditambah dengan akun Instagram. Ketiga hal wajib tersebut mutlak diperlukan di era digital seperti sekarang ini, selain untuk mengukuhkan brand juga memudahkan promosi dan engage konsumen yang lebih gampang.

Pertama, website resmi.

Dalam website resmi, paling tidak harus memuat tujuh hal. (1) katalog buku beserta keterangan lengkapnya; (2) profil para penulis di penerbit tersebut; (3) pembelian langsung buku lewat web tersebut dengan diskon khusus; (4) agenda terdekat kegiatan yang berkaitan buku; (5) cara mengirimkan naskah; (6) link untuk sosial media seperti Facebook, Twitter dan Pinterest; dan yang terakhir (7) PDF katalog yang bisa diunduh untuk memudahkan calon pembaca dan pembeli menemukan buku kesukaannya.

Bagus lagi bila web tersebut menyediakan blog khusus untuk para editor penerbit. Dengan begitu, akan terbangun hubungan yang baik antara editor dengan pembaca, bahkan calon penulis-penulis masa depan yang baru.

Kedua, akun Twitter.

Kekuatan retweet di Twitter sangat luar biasa. Hebat lagi bisa menjadikan salah satu produk buku trending topic. Agendakan secara rutin untuk kultwit isi buku. Termudah, ajaklah penulisnya langsung untuk memberikan kultwit . Jangan lupa di sesi akhir selalu tekankan untuk merujuk ke website, dan upayakan terjadi eksekusi pembelian. Mungkin bisa diakali dengan dengan pembelian langsung lewat website pada saat itu akan mendapatkan diskon khusus.

Ketiga, akun Facebook.

Kegunaannya, selain memiliki akun resmi sendiri, juga untuk membuat Grup dan Fans Page. Kegunaan grup tentu membangun komunikasi dua arah antara penerbit dengan pembacanya tentu lebih baik lagi. Komunikasi dua arah ini penting untuk membangun ikatan emosional antara pembaca, penulisnya, bahkan penerbitnya. Fans Page lebih ke arah lebih umum dalam membangun branding. Semakin banyak likers Fans Page, terkadang bisa menjadi tolak ukur tingkat keterkenalan dan kesuksesan penerbit tersebut.

Keempat, Instagram.

Disebut-sebut sebagai sosial media ketiga terbesar setelah Facebook dan Twitter. Dalam Instagram, bisa menampilkan kover-kover buku koleksi milik penerbit untuk di-display, sehingga akan mudah di-repost oleh follower sebagai buku favorit. Dengan begitu, tentu akan dilihat oleh follower yang lain. Di sini, viral marketing sangat efisien, karena Instagram didesain sebagai sarana display untuk gambar-gambar memikat.

Sosial Media untuk Buku Unggulan

Butuh serangkaian ide kreatif dan eksekusi yang simultan agar buku tersebut bisa maksimal dalam promosinya lewat media internet.

Pertama, berikan PDF free chapter.

Semua orang menyukai PDF free chapter. Yang perlu diperhatikan hanyalah, berikan chapter paling menarik, dan potong pada bagian yang paling membuat penasaran. Yang hanya tidak boleh dilewatkan adalah memberikan ikon share, baik di Twitter maupun Facebook pada akhir chapter. PDF pasti dibaca lewat layar monitor atau tablet. Dan era sekarang, semuanya terkoneksi ke internet. Dengan satu klik saja, akan menjadi viral yang sangat menguntungkan promosi buku tersebut.

Kedua, buatlah mikroblog khusus.

Gambaran lengkap tentang buku dipaparkan di mikroblog ini. Dengan tampilan desain yang setema dengan kover buku, akan menambah kekhasan dan daya tarik. Usahakan jangan melupakan sisi eksekusi pembelian langsung lewat mikroblog ini.

Ketiga, buatlah akun Twitter dan rutinkan melakukan tweeting.

Agendakan rutin, misalnya tiap Selasa malam dan Jum’at malam kultwit mengenai isi buku, dan ajaklah follower untuk berdiskusi. Kerjasamalah dengan penulisnya.

Keempat, buatlah fans page.

Tentu sebagai bahan diskusi dua arah. Juga sebagai kabar-kabar terbaru mengenai beragam kegiatan yang berkaitan dengan buku tersebut.

Kelima, lakukan branding menyeluruh.

Bila memang buku unggulan, lakukan branding menyeluruh mengenai buku. Pertama, judul buku memiliki tipografi yang unik, karena ini nantinya akan dijadikan sebagai senjata utama brand. Tipografi khas pada judul bisa menjadi header di blog, fans page Facebook, juga Twitter dan Instagram, bahkan bisa menjadi merchandise. Kedua, ciptakan jargon unik mengenai buku ini. Dengan jargon yang unik, bisa memudahkan untuk semakin memperluas virus buku ini ke masyarakat. Ketiga, desain buku harus khas, karena tema desain kover akan dijadikan tema desain pula untuk mikroblog, poster, flyer, dan lain sebagainya. Keempat, kuatkan pula di sisi kredibilitas penulisnya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bagaimana Seharusnya Penerbit Memanfaatkan Sosial Media untuk Mempromosikan Buku?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Fachmy Casofa | @fachmycasofa

Managing Editor Virala.id. Writer of best seller national book, Habibie Tak Boleh Lelah dan Kalah!, Founder Satria Foundation and Epixplay Karya Indonesia | www.fachmycasofa.com or fachmycasofa@gmail.com for more creative collaboration.

Silahkan login untuk memberi komentar