Adit Saputra, Founder Alterdeco: Kita Harus Berubah, Walaupun Hampir Semua Pekerja Kreatif Pernah Menjiplak

Sosok

2.4K
Tak banyak di negeri ini yang menekuni ranah kreatif sebagai pembuat font. Alterdeco milik Adit Saputra adalah salah satu yang eksis dan karyanya selalu menjadi favorit saya. Bergaya, detail, dan tentu saja, selalu keren! Saya hadirkan perbincangan saya dengan Mas Adit, sapaan akrabnya, tentang dunia kreatif perhurufan, yang masih jarang dijamah oleh biang kreatif di negeri ini.

Halo Mas Adit, apa kabar?

Halo, alhamdulillah kabar baik.

Sedang sibuk apa sekarang?

Sekarang masih terus belajar dan mempersiapkan beberapa project font, dan ada beberapa project kreatif lainnya.

Seperti apa sih perjalanan hidup Mas Adit hingga menjadi seperti sekarang?

Saya lahir di Jogja, sekitar dua puluh-sekian tahun lalu. Menghabiskan masa kecil di Riau, Sumatera. Di masa kecil itulah saya merasakan “naik turun”-nya hidup bersama orang tua, di mana saya dituntut harus bisa membuat mainan sendiri dari bahan-bahan sederhana, kertas, kayu, bambu, potongan sendal, karton, sampai potongan-potongan karakter dari majalah Bobo, karena “keterbatasan”.

SMP saya kembali ke jogja, masa-masa di Jogja saya mulai mencari hal kreatif apa yang ada pada diri saya. Hal pertama yang saya minati adalah sastra, dari situlah pertama kali saya mengenal komputer, dan karya pertama yang saya buat adalah sinopsis karya Marah Rusli, Siti Nurbaya. Dari sinopsis itulah saya mulai aktif mengisi mading sekolahan dengan puisi-puisi dan cerpen-cerpen, banyak terinspirasi dari karya-karya Kahlil Gibran dan Chairil Anwar.

SMA, saya masuk di jurusan akuntansi salah satu SMK Muhammadiyah di Jogja. Tapi, bukan akuntansi yang saya cari, melainkan TI. Waktu itu, jurusan TI masih sulit dicari, dan cuma di sekolah tersebut ada akuntansi yang ditandemkan dengan TI.

Tanpa pikir panjang, masuklah saya ke sekolah tersebut. Di situlah pelan-pelan saya mulai mengenal web design dan software grafis, juga musik. Di saat teman-teman lain asik dengan dunia “main”-nya, saya sudah sibuk bolak-balik ke warnet, untuk belajar, membuat blog. Intinya yang pikirkan waktu itu adalah: saya ingin membuat sesuatu dengan komputer selain mengetik.

Sampai akhirnya saya kuliah di salah satu kampus desain komunikasi visual di Jogja, di situ saya mulai petualangan “kreatif” saya. Semua bidang kreatif pernah saya coba: web design, animasi, clothing, dan lain-lain. Saya sibuk dengan dunia saya sendiri, hingga kuliah pun akhirnya tak terselesaikan, sampai akhirnya jatuh hati pada tipografi, font designing, sampai sekarang.

Bagaimana cara orang tua mendidik?

Ayah saya adalah orang paling kreatif pertama yang saya kenal. Beliau yang mengajarkan saya bagaimana membuat mobil-mobilan dari karton, bagaimana membuat lukisan dengan memanfaatkan batang pohon keteladan daun pepaya, bagaimana membuat logo Superman dengan simetris. Beliau mendidik saya dengan “kreatif” dan hal itu saya sadari dan saya syukuri ketika saya sudah mulai terjun langsung di dunia kreatif saat ini.

Mungkin terima kasih saja tidak akan cukup untuk diucapkan kepada orang tua saya, yang jelas saya sangat bersyukur dianugerahi orang tua yang super hebat, dan dengan segala kemampuan dan kekurangan saya, akan berusaha membahagiakan Bapak dan Ibu.

Apakah pernah menemukan ‘aha moment’?

Aha moment pertama saya adalah, berani menerima sebuah project web design, padahal saat itu saya belum “bisa” sama sekali. Tapi dari situlah saya punya komitmen untuk belajar, dan alhamdulillah project berjalan dengan lancar. Saya ingat waktu itu adalah semester kedua saya kuliah, dan dari situlah saya berani memutuskan untuk meninggalkan kuliah dengan segala konsekuensinya.

Aha moment kedua saya, berani menikahi teman kuliah yang berhasil cum laude, sedangkan saya adalah mahasiswa tiada akhir (sampai akhirnya DO).

Keluarga dan teman. Apakah selama ini mereka cukup suportif dengan apa yang Mas Adit citakan?

Alhamdulillah keluarga dan teman menjadi bagian terpenting dalam hidup dan karier saya.

Dukungan seperti apa yang biasanya mereka berikan?

Ada teman yang rela meminjamkan komputernya berjam-jam agar saya bisa belajar coding sederhana untuk web, dan mengerjakan project-project impian yang tak berujung. Ada teman yang rela semalaman ikutan ke warnet untuk sama-sama belajar PHP karena di kost-an tidak ada internet.

Apakah Mas Adit sudah cukup puas dengan olah kreatif yang sudah dilakukan selama ini, dan kenapa?

Kalau cukup puas, jawabannya pasti belum. Banyak hal kreatif lain yang masih ingin saya pelajari, karena tren dunia kreatif akan terus berkembang.

Tentu saja Mas Adit sudah melakukan banyak hal hingga ke titik ini. Namun, adakah hal lain yang sebenarnya ingin dilakukan baik untuk diri sendiri maupun orang lain yang sampai saat ini belum terlaksana, dan apakah Mas Adit merasakan bahwa memberikan makna ke orang lain lebih berarti daripada menyenangkan diri sendiri?

Ya, banyak hal yang masih ingin saya kerjakan, terutama untuk banyak teman-teman yang potensi kreatifnya tinggi, namun terkendala hal-hal teknis sehingga karya-karyanya masih belum bisa terekspos secara maksimal. Salah satu cara yang sudah dan akan terus saya lakukan adalah berkolaborasi dengan beberapa teman untuk membuat font, dengan harapan ikut mambantu menularkan semangat berkarya. Juga melalui sharing kreatif dan workshop ke berbagai forum kreatif. Kebahagiaan itu tidak melulu dinilai dari materi. Tapi, saya lebih bahagia ketika bisa menginspirasi banyak orang, dan banyak orang lebih bahagia dari saya.

Apa sih sebenarnya pekerjaan harian Mas Adit?

Sekarang ini saya punya studio desain bernama Alterdeco, yang saya kerjakan adalah font designing dan tipografi.

Bagaimana me-monetize skill Mas Adit?

Banyak hal yang saya lakukan untuk me-monetize, di antaranya adalah membuat online portfolio seperti Behance, Dribble, Deviantart, dll. Dari situ kita dikenal banyak orang, dari dalam dan luar negeri. Kemudian mulai “berjualan” di banyak online marketplace seperti Fiverr, Envato, Creative Market, dan designs.net.

Bagaimana sih step-by-step membuat font?

Di Alterdeco, saya membuat font dengan konsep vintage typography, yang garis besar idenya adalah mengangkat kembali tipografi dari tahun 1900-an. Step awalnya membuat sketsa dari ide yang didapat, kemudian di-vectorize menggunakan Corel Draw atau Adobe Ilustrator. Tahap selanjutnya diolah menggunakan Font Lab atau Glyphs. Di situ kita mulai mengolah vektor menjadi font, mengatur kerning, membuat alternatives character, dll. Hingga font bisa digunakan untuk kebutuhan desain.

Software apa saja yang sering digunakan untuk olah skill kreatifnya?

Saya biasa menggunakan Corel Draw, Adobe Illustrator, Adobe Photoshop, Glyphs, Fontlab Studio, dan sedang ada beberapa project ke depanmenggunakan Logic Pro X. Untuk mobile, saya menggunakan Paper by 53, Enlight, Adobe sketch, Adobe draw, dan Inkpad pro.

Capaian prestasi terbesar apa yang diraih baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan?

Untuk prestasi terbesar dalam pekerjaan saya rasa belum, karena banyak hal yang masih ingin saya pelajari dan saya kerjakan. Saya sudah cukup senang dengan dikenalnya beberapa karya saya baik di dalam maupun di luar negeri, dan pernah mengisi interview dibeberapa web kreatif, salah satunya di Virala (terima kasih Mas FachmY).

Dalam hidup, prestasi terbesar saya adalah “berani” menikah.

Apa sih yang harus dilakukan anak-anak muda Indonesia untuk memberdayakan skill-nya lewat teknologi?

Belajar. Belajar apa pun, dari mana pun. Industri kreatif dan teknologi itu selalu jalan beriringan dan saling memengaruhi. Saya teringat kata-kata dosen “nirmana” saya dulu, beliau bilang:

"Kita itu sebenarnya mampu membuat karya yang gila! Hanya saja kita terlalu dan selalu memanjakan diri kita sendiri dengan menunda.”

Bagaimana Mas Adit mendefinisikan Indonesia, dan apakah tinggal di Indonesia memengaruhi daya kreativitas?

WOW! Begitu saya mendefinisikan Indonesia, terlepas dari segala permasalahannya. Hal yang paling mempengaruhi daya kreativitas itu sebenarnya ya diri kita sendiri, tinggal di Indonesia atau di belahan dunia mana pun sama saja.

Warisan seperti apa yang hendak dibagikan Mas Adit kepada generasi muda Indonesia?

Semangat. Semangat untuk mengubah. Dalam industri kreatif kita, ada kebiasaan “menjiplak” karya. Hampir semua desainer atau pekerja kreatif itu pasti pernah menjiplak, saya pun demikian. Oleh karena itu, yang saya lakukan di Alterdeco, dengan berkolaborasi bersama beberapa teman yang lain, saya bertujuan mengubah dari yang masih menggunakan software bajakan akhirnya bisa membeli software asli, dari yang awalnya pernah membajak, akhirnya bisa membeli karya dari desainer lain untuk proses belajar, sehingga kita semua mampu mengembangkan potensi kreatif masing-masing.

Apa arti passion bagi seorang Mas Adit, dan apakah cukup dengan passion yang kuat saja kita bisa sukses?

Passion bagi saya adalah mimpi dan keinginan. Untuk mewujudkan mimpi itu dibutuhkan kerja keras dan konsistensi yang cukup melelahkan. Dari konsistensi itulah kita bisa sukses dan berkembang, tidak cukup dengan mimpi saja.

Hingga saat ini, siapa mentor terbaik Mas Adit?

Dalam pekerjaan, mentor terbaik saya adalah pengalaman, istri, sahabat, keluarga, dan klien, tidak ada yang lebih baik dari itu.

Lima tahun dari sekarang, hal menarik apa yang Mas Adit rencanakan ingin lakukan, namun belum sempat untuk diwujudkan sekarang?

Saya senang dengan anak-anak kecil, hal yang paling saya impikan adalah membagi pengalaman kreatif masa kecil saya dengan anak-anak kecil di sekitar tempat saya tinggal, dengan harapan menanam sedikit bibit-bibit kreatif dalam diri mereka.

Bagaimana bila harus mendeskripsikan Mas Adit dalam lima kata saja?

Kalau kata istri saya: langsing, ganteng, tekun, curious, kurang romantis.

QUICK FACTS ABOUT ADIT SAPUTRA

HOBI : Nonton, ngopi, bermusik

TWITTER : @alterdecofont

INSTAGRAM : @alterdecoinc

WEBSITE : alterdecofont.com

FACEBOOK : fb.com/last27

MAKANAN FAVORIT : Ayam goreng

TEMPAT FAVORIT : Angkringan ( wifi)

QUOTE FAVORIT : “Everything must have come from nothing.”

TOKOH FAVORIT : Steve Jobs, Oliver Queen, Kahlil Gibran

BUKU FAVORIT : Aku karya Sumandjaya

LAGU FAVORIT : Invidia - Delain

MOMEN FAVORIT : Momen saat ijab qabul


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Adit Saputra, Founder Alterdeco: Kita Harus Berubah, Walaupun Hampir Semua Pekerja Kreatif Pernah Menjiplak". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Fachmy Casofa | @fachmycasofa

Managing Editor Virala.id. Writer of best seller national book, Habibie Tak Boleh Lelah dan Kalah!, Founder Satria Foundation and Epixplay Karya Indonesia | www.fachmycasofa.com or fachmycasofa@gmail.com for more creative collaboration.

Silahkan login untuk memberi komentar