5 Alasan Mengapa Tak Usah Menanyakan Kapan Nikah kepada Kawanmu

Cinta

7K
Didoakan terus lebih baik daripada ditanyakan terus.

Kapan nikah adalah trending topic sepanjang masa dalam sejarah kehidupan manusia di Indonesia. Bahkan, sesensasional apa pun Syahrini mengeluarkan statement, kagak bakalan bisa ngalahin tren pertanyaan 'kapan nikah'. Padahal, semua orang juga tahu, bahwa urusan jodoh adalah ranah ilahiyah, namun masih saja banyak yang merecokinya dengan alasan yang tidak lumrah.

Tetapi, Virala berbaik hati, untuk mengingatkan lagi, dan inilah 5 alasan mengapa seharusnya kamu nggak usah nanyain 'kapan nikah' kepada kawan kamu.


1 - Karena kamu nggak pernah tahu apa beban hidup kawanmu


Setiap orang, memiliki fase cobaan berat dalam hidupnya. Bila nggak terjadi ketika kecil, pasti pas dewasa, atau ketika pas sudah tua. Semua pasti merasakan yang namanya 'dark age' dalam hidupnya. Nggak ada ceritanya hidup seseorang bakalan lurus-lurus saja. Pasti ada tahun-tahun penuh duka, hari-hari penuh nestapa.

Katakanlah si A. Kamu melihatnya sebagai pebisnis online sukses. Omzetnya jutaan per minggunya. Dia sangat giat bekerja, pagi, siang, sore, malam, seolah tanpa henti. “Hei, sudah mapan begitu, kenapa nggak nikah-nikah juga, ingat umur tahu!” Itu yang kamu lihat. Yang kamu tidak tahu, ibunya sedang sakit keras, ayahnya sudah meninggal, adiknya butuh biaya kuliah, dan hutang keluarga yang harus segera dilunasi.

Katakanlah si B. Kamu melihatnya sebagai sosok cantik, barkarier cemerlang, dan usia sudah hampir kepala 3, sebentar lagi. Yang kamu tidak tahu, dia sudah berkali-kali disakiti dan dikhianati. Yang kamu sangat tidak tahu, dia butuh waktu untuk mengobati hati yang sudah remuk dan butuh pemulihan.

Apa yang kamu tahu, selalu tak sesuai dengan apa yang orang lain rasa dan alami. Apa yang kamu lihat, selalu tak sesuai dengan apa yang orang lain sedang perjuangkan. Jadi, nggak usah berperan seolah jagoan yang bisa mengatur kehidupan seseorang.


2 – Karena dia tak ingin merusak kehidupan anak orang


Bisa jadi, seseorang belum menikah, karena misalkan salah satu dari orang tuanya meninggal, sehingga dia harus ikut menanggung beban keluarga. Dia tentu butuh waktu dong untuk menyelesaikan urusan-urusan keluarganya. Lha kalau dia tak sanggup untuk bertanggung jawab kepada urusan keluarganya, bagaimana dia akan mampu untuk ngebahagiain anak orang.

Jangan pernah bertanya kepada seseorang 'kapan nikah' hanya karena berdasar, “Pasti kamu nunggu mapan. Denger nih ye, gue kasih tahu, kalau lu nggak nikah sekarang, terus pas umur kamu nanti sekian, anak kamu baru berumur sekian, saat kamu sudah tua, anak kamu masih kecil-kecil, dan seterusnya, bla ... bla... bla.”

Iya kalau beranak? Kalau enggak? Tidak usah kasuistik begitu.

Ada banyak beban yang sedang ia perjuangkan agar makin ringan di setiap harinya. Dia tak ingin mengambil anak orang, kemudian ia nelangsakan. Dia tak ingin melamar anak orang, kemudian tidak dibahagiakan. Dia butuh waktu dan doamu, bukan ocehan menyebalkanmu.


3 - Karena prioritas hidupnya bukanlah prioritas hidupmu


Nanya kapan nikah itu sama saja dengan nanya ‘kapan kamu kaya’ kepada orang miskin atau yang sedang bangkrut. Dia yang sedang gelisah karena nggak bisa makan, karena bisnisnya sedang berantakan, tiba-tiba kamu datang terus berkomentar tanpa dosa, "Kapan kamu kaya? Kok gue lihat lu males-malesan saja." Itu udah kayak pengen nampol muka kamu pake pesawatnya Anakin Skywalker.

Mentang-mentang kamu sudah mencapai tahap ‘sudah menikah’ bukan berarti bebas ngomentarin orang-orang yang belum sampai pada tahap tersebut. Itu sudah kayak kamu sudah bisa pergi ke Paris, terus seenaknya ngomentarin orang, “Makanya, hidup cuman sekali, traveling dong, jangan di rumah mulu kayak pembantu!” Padahal kamu tidak tahu, bahwa dia menanggung puluhan anak yatim piatu agar tetap bisa sekolah.

Seseorang memiliki prioritas hidupnya masing-masing, jangan memaksakan prioritasmu kepada orang lain.


4 – Karena setiap orang sedang berusaha akan suatu hal


Ada bapak yang sedang berusaha dan sedang bekerja keras agar anaknya bisa sekolah. Ada ibu yang berusaha agar masakannya enak dan semua keluarga bisa lahap ketika makan di rumah, sehingga tak perlu ke warung makan setiap hari. Ada nenek yang pada usia senjanya masih mencari rezeki agar cucunya bisa makan esok hari. Ada pemuda yang sedang kebingungan mencari kerja, sebagai bukti pada orang tuanya bahwa masa-masa belajarnya tidak sia-sia. Ada seorang anak SD yang rajin belajar agar bisa meraih tiga besar dan mendapat beasiswa agar orang tuanya bangga padanya dan tak perlu membiayai sekolahnya lagi.

Semua orang sedang berusaha terhadap sesuatu, sedang berusaha sangat keras agar orang-orang yang disayanginya bahagia dan tenteram melihatnya.

Dan kamu tiba-tiba datang menanyakan kapan nikah kepadanya? Mungkin palu Thor alat yang tepat untuk membungkam mulutmu.


5 – Karena kamu sedang berurusan dengan hati seseorang


Apa kamu tahu berapa kali proses lamarannya gagal? Apa kamu tahu berapa kali dia tersakiti oleh orang yang ia cintai. Apa kamu tahu bahwa ia sedang berusaha mengobati hatinya yang kesepian. Apa kamu tahu dia juga menadapat tekanan, namun sedang berusaha tetap tegar. Apa kamu tahu trauma yang dideritanya karena orang tuanya bercerai dan penuh KDRT.

Kalau memang jodoh belumlah ada tanda mendekat, janganlah membuatnya runyam di kehidupan dan hati seseorang dengan dengan rerentet pertanyaan menyebalkan.

Sungguh, lebih baik didoakan daripada ditanyakan terus. Lebih baik ulurkan doa agar kebahagiaan menyelimutinya daripada pertanyaan menyebalkan 'kapan nikah' itu terus dilontarkan.


Jangan sampai kawanmu menikah karena terpaksa. Karena sesuatu hal yang berdasar terpaksa, tidak pernah berjalan dan berakhir bahagia. Mari membuat orang lain lebih bahagia, dengan cara terbaik yang kita bisa ;-)



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Alasan Mengapa Tak Usah Menanyakan Kapan Nikah kepada Kawanmu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Fachmy Casofa | @fachmycasofa

Managing Editor Virala.id. Writer of best seller national book, Habibie Tak Boleh Lelah dan Kalah!, Founder Satria Foundation and Epixplay Karya Indonesia | www.fachmycasofa.com or fachmycasofa@gmail.com for more creative collaboration.

Silahkan login untuk memberi komentar